MEMAAFKAN ITU SEHAT & MULIA

Kajian Islam dan Kejiwaan mengakui bahwa memaafkan merupakan satu tindakan yang sangat bermanfaat bagi jiwa. Dalam Islam perilaku ini diganjar dengan Takwa sementara dalam ilmu kejiwaan memaafkan adalah langkah besar menyehatkan jiwa manusia.

Siapa yang sering menengok al-Quran akan sadar bahwa memaafkan adalah amalan yang bernilai besar dan tinggi. Banyak ayat yang mengajarkan mukmin untuk mengamalkan hal ini. Allah swt dengan lugas menganjurkan hambanya menjadi pemaaf dan mengerjakan kebaikan (QS Al-A’raf 7:199); juga diperintahkan berlapang dada karena itu merupakan manifestasi dari keadaan hati yang menyukai ampunan Allah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS, An Nuur:22); memaafkan juga akan diganjar surge yang diperuntukkan bagi orang yang bertakwa yang senantiasa bisa menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. (QS Ali ‘Imraan:134)

Ilmuwan Islam kontemporer, Harun Yahya, menyebut bahwa memaafkan adalah obat yang bekerja dengan sendirinya. Saat seseorang marah berarti telah terjadi pelepasan hormon stress yang membuat sel-sel jantung membutuhkan oksigen lebih banyak. Sel – sel darah juga akan mengental dan dapat memicu pembekuan yang kemudian akan menyebabkan terjadinya serangan jantung. Inilah resiko yang selalu menyertai kemarahan. Makanya wajar jika Islam mengajarkan untuk menahan dan mengontrol kemarahan karena hal itu sangat baik bagi kesehatan.

Memaafkan juga merupakan proses psikis yang baik. Para psikolog percaya bahwa hidup tanpa permaafan hanya akan melanggengkan derita psikis yang berawal dari sikap permusuhan dan keinginan mengalahkan. Marah juga akan menghabiskan energy mental dan melanggengkan stress.

John Monbourquette, dalam How to Forgive, menjelaskan saat orang marah dan kemudian mendendam maka ia berarti melanggengkan derita yang berbalut kekerasan tanpa putus. Dalam kepalanya ia menuntut keadilan bahwa derita yang ia alami harus dibayar dengan derita pula hingga terbentuklah rantai derita dan kesakitan yang panjang. Rantai derita itu hanya bisa dihentikan dengan memaafkan.

Para ilmuwan telah membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan memiliki kesehatan lebih baik, baik aspek jiwa maupun raganya. Lewat penelitian terungkap bahwa penderitaan orang akan berkurang setelah ia memaafkan orang yang menyakitinya. Orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batin namun juga jasmani. Gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress, susah tidur dan sakit perut menjadi berkurang setelah proses memaafkan dilakukan.

Hampir semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, disisi lain, meskipun kadang terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin.

Potret sejarah

Islam sendiri mencatat proses memaafkan paling tua yang dialami manusia yakni saat Habil diterima Qabil. Saat kurban Habil diterima Allah swt sementara kurban Qabil ditolak, Qabil berang kepada saudaranya itu dan mengancam untuk membunuh.

Tapi Habil tak marah dan berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang – orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali – kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam,”ujar Habil.

Disini Habil menahan diri untuk tidak membalas keburukan saudaranya dan menyerahkan hukumannya kepada Allah swt. Kekuatan menahan diri seperti yang dimiliki Habil adalah sebuah kekuatan yang bisa memperkecil konflik dalam masyarakat. Sehingga tidak ada usaha saling balas.

Kisah nabi Yusuf juga mengandung banyak pelajaran berharga dalam hidup berkeluarga. Yusuf sejak kecil dimusuhi saudara – saudanya. Rasa hasad saudaranya hampir menyebabkan mereka membunuh Yusuf. Tapi akhirnya mereka tidak membunuhnya, walaupun tetap membuangnya dengan meninggalkan di sebuah sumur. Saat saudara – saudaranya, suatu ketika, memohon bantuan kepadanya, Yusuf tak membalas dan bersedia membantu mereka.

Islam memang mengajarkan keharmonisan dan perdamaian dalam segala aspek hidup terutama sekali keluarga. Hal ini harus terus diupayakan dan mendapat akomodasi yang baik dalam syariat. Dalam konflik keluarga kita mengenal konsep hakam yang tak lain merupakan syariat agar mukmin saling membantu mukmin lain agar bisa berdamai dan memaafkan. Hal ini harus diikuti niat yang kuat dan iklas karena Allah.

Dalam sirah, Umar bin Khattab diceritakan pernah mengutus dua orang sahabatnya untuk mendamaikan sebuah keluarga yang sedang mengalami konflik.

Setelah lama berusaha, keluarga itu tak kunjung damai. Akhirnya kedua utusan itu kembali kepada Umar melaporkan kegagalan misi mereka. Umar hanya menasihatkan, “Perbaiki dulu niat kalian,” ujar Umar.

Kemudian keduanya kembali mendatangi keluarga itu dan akhirnya berhasil mendamaikan. Ketika melaporkan keberhasilan mereka, Umar menyitir sebuat ayat,

“jika kedua orang hakam itu bermaksud ikhlas mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada keduanya (kedua hakam),” ujar Umar.

Karenanya mari saling menjaga keluarga kita dengan mengedepankan maaf dengan niat yang ikhlas.

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 09 / II / Oktober 2009

~ by glesyer on August 20, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: