INDAHNYA MEMAAFKAN DALAM KELUARGA


Keluarga adalah area bagi kebahagiaan dan kedamaian yang indah. Kadang kedamaian itu terusik konflik serta kekhilafan. Selain komunikasi yang efektif, faktor memaafkan adalah kunci agar keindahan dalam keluarga bisa terus dijaga.

Melihat banyaknya konflik rumah tangga para artis yang menjadi santapan media, tentu saja membuat hati kita miris. Dari perceraian Ahmad Dhani dengan Maia Estianty, konflik Pasha Ungu dengan istrinya Oki Agustina, sampai perceraian si Raja Kuis Helmi Yahya dengan istrinya Harfansy, menghadirkan rasa prihatin yang mendalam atas kehidupan keluarga saat ini. Tidak adakah jalan lain selain berseteru, bercerai, dan menyewa pengacara dalam menyelesaikan konflik itu? Menjadi pertanyaan di kepala kita yang tak mudah dijawab.

Memang tak adil jika kita hanya memberi contoh kepada kehidupan artis saja. Sejatinya konflik terjadi hampir pada setiap keluarga di segala golongan. Setiap kali satu pihak melakukan kesalahan, pasangan memang cenderung goyah dan tak mudah melakukan recorvery jika kesalahan yang dilakukan demikian fatal dan merusak sendi – sendi keluarga. Kesalahan itu bisa berupa pengkhianatan lewat selingkuh, berkurangnya perhatian dan kasih sayang, kenakalan anak, serta konflik yang berasal dari berkurangnya kemampuan suami dalam membiayai keluarganya.

Dalam sebuah rubrik konsultasi psikologi di sebuah media terkemuka terungkap bahwa memaafkan sebagai langkah recorvery atas konflik sungguh tak gampang untuk dikerjakan. Dalam rubrik itu ada seorang istri bertanya, “Mungkinkah saya memaafkan suami saya yang sudah berselingkuh? Sama sekali saya tidak menyangka dia tega melakukan hal itu kepada saya.” Sementara seorang yang lain mengatakan, “Bagaimana cara saya memaafkan kesalahan ayah saya yang sering memukuli saya dengan ikat pinggangnya waktu saya masih kecil.”

Ada pula pertanyaan lain: “Jika pasangan terus menerus melakukan kesalahan, bagaimana memaafkannya?” pertanyaan-pertanyaan inilah yang menghadirkan kenyataan bahwa memaafkan kadang merupakan problem yang tak mudah diterapkan dalam keluarga.

MAKNA MAAF

Ulama asal Rembang, KH Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus menyebut, jika merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maaf merupakan pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dan sebagainya) karena suatu kesalahan. Maaf juga bisa berarti permintaan ampun, atau pembebasan dari hukuman, denda, dan sebagainya.”

“Meminta maaf atau memberi maaf itu adalah perbuatan yang mulia. Orang yang mau mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah seorang ksatria. Orang yang suka memberi maaf adalah orang yang berjiwa besar,” ujarnya tegas.

Agama Islam sendiri, menurut Gus Mus, menganggap mulia dan menganjurkan kepada perbuatan itu yakni meminta dan memberi maaf itu. Menurut sebuah hadist shahih, Nabi Muhammad saw, pernah menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baiknya itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini, sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas.

“Sebab nanti di akherat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus. Orang yang mempunyai tanggungan dan belum meminta halal ketika dunia, kelak akan diperhitungkan dengan amalnya, apabila, dia punya amal saleh, dari amal salehnya itulah tanggungannya akan ditebus, bila tidak memiliki, maka dosa atas orang yang disalahinya akan dilimpahkan kepadanya, dengan ukuran tanggungannya,” ujar Gus Mus lagi.

Inilah yang menjadi pondasi bagi keharusan menjaga kehidupan yang sakinah dalam keluarga. Setiap orang mesti menjaga dengan baik hubungan kekeluargaannya karena itu merupakan tanggungjawab yang harus dia emban.

Tapi bukan hal yang baru dan aneh jika kita melihat banyak rumah tangga hancur, terjadi perceraian serta konflik dari ringan sampai berat dalam rumah tangga. Saat ini bahkan ada konflik yang sampai memicu terjadinya kekerasan bahkan pembunuhan dalam keluarga.

Bagi mubaligh wanita, Hj. Lutfiah Sungkar, memang bukan merupakan hal yang mudah untuk membina keluarga yang sakinah atau harmonis. Hal itu mesti dimulai dari sisi individu terlebih dahulu.

“Keluarga inti adalah suami dan istri, inilah yang harus berusaha dulu untuk baik dan sakinah. Jika masing – masing pihak, baik istri atau suami sudah sakinah maka anak akan mengikuti dan pada akhirnya keluarga juga akan baik,”ujarnya.

Faktor utama kesakinahan, menurut Luthfiah tak lain adalah mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan mendekatkan diri itulah kunci kedamaian keluarga diperoleh. Masing – masing orang tua juga harus introspeksi diri, memeriksa apakah yang dilakukan selama ini sudah baik kepada pasangan atau belum. Anak biasanya akan menjadikan sikap – sikap ayah dan ibunya sebagai teladan baginya.

Pada masalah orang ketiga, Lutfiah juga menekankan aspek introspeksi itu terlebih dahulu. Periksa apakah ada kekhilafan yang dilakukan yang membuat suami atau istri bisa berpaling kepada yang lain. Ini penting agar tidak ada egoisme yang muncul, juga buruk sangka yang berlebihan. Diperiksa pula apakah memang benar orang ketiga itu adalah orang yang special bagi pasangan atau tidak.

“Jadi ada koreksi dan evaluasi pribadi terlebih dahulu, dan juga keyakinan bahwa apapun pastilah ada hikmah yang datangnya dari Allah SWT. Kalau tidak ada pendekatan diri pada Allah dan menyerahkan mutlak kepada-Nya masalah akan sulit dipecahkan, “ ujarnya tegas.

Sementara itu artis Astri Ivo lebih menekankan kepada aspek komunikasi dalam keluarga. Menurutnya ada banyak gaya komunikasi  dalam rumah tangga yang bisa dilakukan. Ini merupakan modal agar jalinan keluarga bisa tetap hangat.

“jika kebetulan ada masalah, janganlah focus pada permasalahan dan kejelekan pasangan kita. Tapi saat itulah justru saat yang tepat untuk mengingat kebaikan pasangan kita, dengan itulah kita bisa berpegangan pada kelebihan yang dimiliki bukan kelemahan. Hingga hati kita jadi lembut dan mudah memaafkan,” ujarnya.

MEMAAFKAN DENGAN BENAR

Dalam ranah Psikologi, menurut Lastri Fajriah S.Psi, memaafkan merupakan sebuah keadaan dimana motivasi membalas dendam dalam diri seseorang menurun kadarnya. Memaafkan juga berarti motivasi diri yang awalnya menghindari orang yang menyakiti menjadi berkurang.

“Memaafkan itu tak lain adalah tindakan konstruktif sekaligus mencegah respon destruktif dalam diri seseorang,” ujar praktisi psikologi yang sehari – hari bergerak dalam dunia pendidikan ini.

Poin dari kata “menurun” itulah yang menurut Lastri penting untuk disimak. Artinya, seseorang memang tak mungkin bisa memaafkan secara penuh dan itu sah saja adanya bagi jiwa manusia. Malahan jika mengharapkan atau memaksakan satu pemaafan yang penuh akan membuat seseorang berada dalam kondisi paradigm memaafkan yang tak ideal.

Menurut Lastri, mengutip teori dari Janis Spring, orang sering keliru dalam menanggapi sebuah proses memaafkan. Kekeliruan itu umumnya terjadi pada lima aspek. Yang pertama orang sering memahami bahwa memaafkan  mestilah secara total dan menyeluruh. Orang juga keliru bahkan dengan memaafkan, pandangan negative atas orang harus serta merta berganti dengan yang positif. Jika perasaan negative masih ada di dalam hati, orang pun sering menyalahkan diri sendiri dan menganggap ia tak dewasa dalam memaafkan. Orang juga sering keliru beranggapan  bahwa memaafkan merupakan tindakan yang tak berguna karena tak ada reward yang bisa dia dapatkan. Dan kekeliruan terakhir adalah bahwa dengan memaafkan, orang beranggapan mesti melupakan luka hatinya sendiri.

“Padahal memaafkan yang demikian terlampau muluk bagi jiwa manusia yang kadang membuat orang justru jadi berat untuk memaafkan. Memaafkan yang demikian juga seperti tak bisa dijangkau karena hanya orang sucilah yang bisa melakukan pemaafan total seperti itu,” ujar Lastri lagi.

Padahal, menurut Lastri lagi, memaafkan bukan berarti tindakan yang bersih dan murni serta tak mementingkan rasa sakit yang dialami. Memaafkan sejatinya adalah proses yang dimulai dengan membagi rasa sakit yang kita alami tersebut setelah peristiwa menyakitkan itu berakhir. Memaafkan hanya bisa berkembang dalam jiwa seseorang setelah ia memiliki pengalaman untuk mengoreksi diri dan membangun kembali rasa percaya diri untuk kembali akrab dengan orang lain.

“Memaafkan itu tak lain adalah proses. Dalam proses itu kita bisa mulai memaafkan dengan kondisi lima persen saja dan terus naik perlahan,” ujarnya sambil tersenyum.

Dengan memulai memaafkan dengan hanya lima persen, orang tak perlu kemudian merasa bahwa dirinya jahat atau sebagainya karena kondisi kejiwaan seseorang tentulah berbeda – beda. Dalam kondisi memaafkan itu jika masih terselip rasa benci di antara rasa cinta juga tak jadi soal, selama prosesnya masih terus berjalan dengan baik.

“Proses memaafkan itulah yang penting, jika seorang istri yang disakiti, belum bisa total memaafkan suaminya yang pernah selingkuh misalnya, itu tak jadi masalah, asalkan dia menyadari hal itu dan terus bisa meningkatkannya menjadi lebih baik lagi,” ujarnya lagi.

Dalam hidup, terkadang luka psikis demikian berat hingga tak gampang sembuh. Tak masalah jika kebencian masih ada selama kita memandang orang yang menyakiti itu, apalagi dia adalah suami kita, bukanlah orang yang benar – benar buruk seratus persen.

Lebih lanjut Lastri menyampaikan, jangan pula terjadi tindakan melupakan atau mengingkari kesalahan yang pernah dilakukan. Tak masalah itu tetap hidup tapi dengan memaafkan kita sadar bahwa kita tak perlu meminta ganti  rugi atas kesalahan yang dilakukan.

“Artinya jika suami berselingkuh kita jangan kemudian meminta konpensasi untuk bisa melakukan hal yang sama atau menjadi sah untuk tak melayani suami sebaik biasanya. Kebaikan harus tetap dijaga, karena toh kita juga bukanlah makhluk sempurna yang tak bisa melakukan kesalahan,” ujarnya menutup pembicaraan.

Jadi janganlah pernah ragu untuk memaafkan sekalipun itu dimulai dengan kadar yang kecil awalnya. Dari maaf yang kecil itulah bukti bahwa kita selalu punya i’tikad baik melanggengkan keindahan dalam keluarga. Dan jangan pula menganggap bahwa memberi maaf ini sia sia, sebab semua amal baik ada balasan yang lebih baik lagi dari Allah swt.

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 09 / II / Oktober 2009

 

~ by glesyer on August 19, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: