MUNGKINKAH MANUSIA TAMPIL SEMPURNA?

Seseorang yang perfeksionis seringkali kurang disukai karena dianggap kaku. Perfeksionis menuntut kesempurnaan dan tidak bisa menerima kekurangan atau kesalahan. Hal – hal kecil sekalipun, jika menurutnya tidak sempurna, akan mendapat komentar pedas.

Bagaimana mengenali sosok perfeksionis? Beberapa ciri perfeksionis adalah ingin menjadi superior, tampil tanpa cela, sering mengkritik, terobsesi pada sesuatu, dan cenderung tidak bahagia. Sosok perfeksionis selalu berusaha sekuat tenaga tampil prima dalam setiap kesempatan dan menjadi bintang. Ia sangat peduli dengan pendapat orang lain dan sulit mengakui kesalahan di hadapan orang lain. Perfeksionis juga terkenal gigih mendapatkan apa yang ia inginkan.

Dan karena seringkali keinginan tidak selalu terwujud nyata, orang yang perfeksionis cenderung tidak bisa menikmati hidup yang nyata – nyata tidak sempurna ini. Dari beberapa ciri tersebut, satu potensi positif yang bisa diambil dari sikap perfeksionis adalah kegigihan menggapai tujuan. Sejatinya, kekuatan diri ini harus dimiliki semua orang. Orang yang perfeksionis cenderung bekerja super keras untuk meraih keinginannya. Dan kelak, ia akan merasa sangat bangga akan keberhasilannya itu. Hanya saja, gigih di sini tidak bermakna terobsesi hingga menghalalkan segala cara untuk sampai ke opini dan kesalahan orang lain.

DUA TIPE PERFEKSIONIS

Di antara beberapa tipe perfeksionis, ada dua tipe yang banyak kita temui dalam kehidupan sehari – hari. Pertama, self oriented. Tipe ini memungkinkan seseorang mengambil resiko, bahkan tak henti mengkritik diri sendiri saat gagal. Akibatnya, ia tak bisa lari dari penyesalan diri dan bisa berujung depresi.

Kedua, perfeksionis yang selalu berfikir ke depan dan mengharapkan orang lain mengikutinya. Mereka menganggap keinginan mereka harus terpenuhi dan orang lain pun akan bertindak seperti dirinya. Ia akan sangat kecewa jika orang lain memiliki pemikiran yang berbeda atau bahkan menganggap apa yang ia rencanakan buka hal penting untuk dilaksanakan. Psikolog di York University, Gordon L. Flett, mengatakan tipe ini bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain karena bisa menimbulkan rasa putus asa dan memutuskan pertemanan. Namun menurutnya, sikap perfeksionis yang diterapkan secara proporsional (sewajarnya) sangat baik bagi pengembangan diri seseorang.

Perempuan perfeksionis dan resiko

Banyak orang mengatakan bahwa perempuan lebih tidak berani mengambil resiko dibandingkan laki – laki. Namun dalam buku Nice Girl Don’t Get Rich karya Lois P. Frankel dan penelitian yang dilakukan National Association of Women Business Owners dikatakan bahwa jika perempuan benar-benar mengambil resiko keuangan, maka hasilnya akan lebih besar daripada laki-laki. Penyebabnya adalah karena ketika perempuan memutuskan untuk mengambil resiko, ia telah melakukannnya dengan perencanaan yang lebih matang. Perempuan bukan tidak mengambil resiko, tetapi melakukannya dengan cara berbeda.

Salah satu resiko besar yang diambil perempuan dalam kehidupan sehari – hari adalah ketika ia memutuskan untuk menjadi ibu ramah tangga atau menjalankan ‘dwifungsi’ sebagai ibu rumah tangga sekaligus perempuan bekerja. Perempuan yang telah memutuskan keberadaan dirinya, telah menyadari konsekuensi yang harus dipenuhinya. Jikapun dalam prosesnya terjadi hal – hal besar diluar prediksi dan ia mengubah keputusannya, itu bukan berarti ia tidak komitmen dan tidak mau mengambil resiko.

Sifat prefeksionis yang mengandung nilai positif membuat seseorang mampu merencanakan dengan baik sebelum ia mengambil resiko. Perempuan seringkali dianggap mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan. Banyak yang mendukung, namun tak sedikit pula yang meremehkannya. Padahal, intuisi merupakan dasar untuk seseorang mengumpulkan data. Misalnya saja, ketika naluri perempuan mengatakan bahwa si A tidak baik. Ia kemudian akan teringat beberapa hal yang mendukung nalurinya. Misalnya, si A pernah berbohong, si A pernah berbuat tidak sopan, atau si A pernah berurusan dengan polisi karena melakukan tindak criminal. Jadi, pengambila risiko bukan semata didasari intuisi yang tanpa alasan.

Perfeksionis bisa menular

Tahukah Anda bahwa perfeksionis bisa menular? Terlebih bagi perempuan yang kelak akan menjadi ibu, sikap perfeksionis bisa menimbulkan sejumlah masalah perilagu bagi anak. ‘Penularan’ ini dapat terjadi saat ibu menerapkan kedisiplinan untuk anak. Ketika misalnya anak tidak sengaja memecahkan pot bunga, ibu akan marah – marah lalu membereskan pecahan pot dan membuangnya ke tempat sampah. Atau saat anak menumpahkan isi botol minum yang akan dibawa ke sekolah, ibu juga melakukan hal yang sama. Marah – marah lalu merapikan kesalahan anaknya. Pola penerapan disiplin seperti ini, jika dilakukan terus menerus dapat membentuk anak menjadi perfeksionis.

Anak yang tumbuh dalam kondisi seperti ini kemudian sangat takut melakukan kesalahan. Padahal berbuat salah adalah manusiawi. Ketakutan ini juga didasari ketidakmampuannya menyelesaikan masalah, karena sang ibu terbiasa membereskannya. Akibatnya ia tidak kreatif mencari solusi dan lebih suka menghindari kesalahan.

Semakin dewasa, si anak mungkin terlihat semakin bersinar dalam berbagai bidang kehidupannya. Tapi, ini dilakukan bukan karena semangat melakukan yang terbaik melainkan karena tidak mau terlihat kekurangannya di hadapan orang lain. Ia pun akan semakin terbebani dan tidak bisa menikmati keberhasilan yang diperolehnya dari cara yang menyiksa. Dikatakan menyiksa karena dia tidak bisa menjalani fase kehidupannya secara manusiawi; bergumul dengan kegagalan, tawa, kejenuhan, kesedihan, kompromi, dan kebutuhan akan orang lain.

Perfeksionis menjalani pernikahan

Dalam menjalani bahtera rumah tangga, perlu dicamkan sejak awal bahwa tidak ada rumah tangga yang sempurna, karena rumah tangga dibangun oleh dua orang yang juga tidak sempurna. Kita tidak bisa menuntut orang.

Inti permasalahan seorang perfeksionis adalah ketika ia merasa sulit puas dan takut berbuat salah secara berlebihan, lalu membuatnya tertekan dan takut dihina saat tidak berdaya. Berbagai masalah tersebut tentu akan mengganggu interaksi kita dengan orang lain. Karena itulah kita tidak bisa memaksa pasangan selalu berpikiran dan bertindak sama dengan kita.

Selain itu, kita juga seyogyanya menyadari bahwa berbuat salah adalah keniscayaan bagi manusia. Yang penting adalah bagaimana menyadari kesalahan, berusaha tidak mengulanginya, dan menyelesaikannya dengan bijak. Kesalahan adalah tempat manusia belajar menjadi lebih baik. Kesalahan juga mengajarkan manusia untuk bersyukur. Karena itu, yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir kesalahan. Ini akan membuat kita menjalani pernikahan dengan lebih serius tapi fleksibel, bukan dilandasi sikap perfeksionis untuk tampil tanpa cela demi decak kagum orang lain.

Lalu, bagaimana menghindari sikap perfeksionis yang berlebihan? Kita bisa terjun ke dalam lingkungan beragam dan lebih luas, untuk melihat berbagai sisi kehidupan dan sudut pandang yang berbeda. Dengan begitu, kita pun akan memiliki persepsi yang lebih luas tentang hidup yang kita jalani. Kita juga harus berusaha untuk bersikap lebih rileks dan melatih diri untuk bersikap spontan. Dengan begitu, kita dapat menikmati segala rutinitas dan aktivitas yang kita jalani. Kita juga harus mampu bersikap seimbang dengan menyehatkan jiwa dan raga.

Terakhir, jangan meremehkan kesabaran dalam menjalani peran kita di kehidupan sehari – hari. Dengan sabar, insya Allah segala sesuatu akan lebih indah. Dengan sabar, Allah akan memilihkan hasil terbaik bagi kita. Tak perlu berekspektasi terlalu tinggi, karena Allah tahu yang terbaik bagi hamba-Nya.

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 04 / II / April 2009

~ by glesyer on July 21, 2010.

One Response to “MUNGKINKAH MANUSIA TAMPIL SEMPURNA?”

  1. terima kasih artikelnya, saya adalah salah seorang perfeksionis sejati, dan akan mempertajam sikap ini, alhamdulillah pengandaliannya pun semakin tajam pula…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: