EKONOMI YANG MENJADI PROBLEM

Dari awal hendak menikah hingga menjalani kehidupan rumah tangga ekonomi selalu menjadi topic utama. Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasinya dan apa saja problem yang mengikuti di belakang ekonomi itu?

Uang diakui atau tidak, selalu menjadi masalah. Saat sebuah pasangan memutuskan untuk menikah, salah satu persoalan adalah ketersediaan uang untuk biaya resepsi. Saat selesai resepsi pada bulan – bulan berikutnya, masalah yang muncul adalah mengisi berbagai perabot rumah, dari sekedar piring makan sampai kulkas, televisi, kendaraan, hingga rumah.

Pada bulan selanjutnya, tatkala diberi kabar gembira akan kehamilan istri, persoalan yang muncul adalah biaya persalinan dan kebutuhan bayi. Jika bayi sudah beranjak besar, yang membuat pusing adalah biaya pendidikan dan jajan anak yang terus menanjak.

Wah, jika dihitung – hitung tidak akan selesai pembukuan yang dibuat setiap orang untuk menghitung keperluan selama hidupnya. Kebutuhan materi memang selalu hadir mengisi setiap rumah tangga. Persoalan tahihan ekonomi yang tak pernah menurun, sementara penghasilan yang lamban bertambah menjadi buah pikiran yang menggelisahkan. Bahkan bisa – bisa akan meretakkan rumah tangga yang sedang dibina.

Banyak riset perkawinan yang menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang sangat positif antara status ekonomi dengan lamanya usia perkawinan dan kepuasan yang dilaporkan oleh kedua pasangan (Newman & Newman, 1984). Riset yang dilakukan oleh Reiss ini menunjukkan tingginya angka perceraian pada pasangan dengan tingkat pendidikan dan penghasilan yang rendah.

Kenyataan di atas mengindikasikan betapa signifikannya rasa aman akan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar bagi keutuhan suatu perkawinan. Kecemasan akan pemenuhan kebutuhan – kebutuhan dasar dapat mengganggu rasa kebersamaan dan keamanan emosional dalam kehidupan perkawinan. Oleh karena itulah, banyak ahli menyarankan pasangan muda untuk mempersiapkan kondisi keuangan yang mapan sebagai salah satu kondisi yang menunjang penyesuaian perkawinan mereka.

BAGAIMANA DENGAN ISLAM?

Sebagai umat Islam, tuntunan yang selalu kita ikuti adalah apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Mengenai ekonomi, Nabi juga tak ketinggalan memberikan berbagai arahan yang jelas kepada setiap umatnya, terutama mengenai kemiskinan dan kekayaan.

Hampir saja kefakiran itu menjadikan seseorang kafir, itulah pandangan Nabi Muhammad saw terhadap kemiskinan. Karena itu dalam sejarah hidupnya, Nabi memberikan teladan bagaimana mengucurkan keringat dan membanting tulang untuk meningkatkan taraf ekonomi.

Sejak kecil Nabi sudah diajarkan untuk berbisnis oleh pamanya, Abu Thalib. Setelah dewasa ini menjalankan perusahaan bisnis dari jutawan perempuan bernama Khadijah yang kelak menjadi istrinya. Waktu itu dengan strategi bisnisnya Nabi Muhammad telah memberikan keuntungan yang melimpah kepada Khadijah. Jadi Muhammad adalah busineesman yang sukses.

Menengok orang – orang di sekeliling, para sahabat Nabi adalah orang – orang yang gigih dalam meningkatkan ekonomi. Ada sepuluh orang sahabat Nabi yang dijanjikan masuk surge, Sembilan diantaranya adalah orang – orang terkaya di zaman itu.

Selain teladan – teladan ini, ajaran Islam secara kasat mata juga menuntut setiap umat Islam agar mampu secara ekonomi. Dari lima rukun Islam, minimal dua diantaranya hanya bisa dilakukan oleh seorang muslim yang berkecukupan. Dua rukun itu adalah membayar zakat dan naik haji.

Bagi orang yang mampu, Allah menganugerahinya kewajiban berzakat yang pahalanya tidak terhitung jumlahnya. Sebaliknya, jika seseorang masuk dalam taraf ekonomi lemah (miskin atau fakir), dia tidak diwajibkan membayar zakat, malah diberi zakat. Itu artinya ia kehilangan menjalankan rukun zakat. Padalah, tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah, demikian sabda Nabi. Memberi jelas lebih baik dari pada menerima.

Kewajiban haji juga demikian. Untuk biaya transportasi dan bekal perjalanan dituntut seorang muslim untuk mampu secara ekonomi. Jika tidak, tentu ibadah haji sulit dilaksanakan. Karena itu tak salah kiranya jika kesempurnaan seseorang sebagai muslim hanya bisa diraih jika tingkat ekonominya memadai.

Inilah dasar – dasar yang bisa kita jadikan pegangan bahwa umat Islam diajarkan untuk menjadi sosok yang tangguh ekonominya. Karena itu banyak ajaran – ajaran Nabi yang mendorong umat Islam untuk gigih dalam berusaha. Dalam kitab Adabunnabawi (Akhlak Nabi) Rasulullah mengatakan, “ Sebaik – baik makanan yang dimakan seseorang adalah yang dihasilkan dari tantangannya sendiri.”

KEBIASAAN YANG MERUSAK

Meski kekayaan dan kemapanan ekonomi telah diraih, bukan berarti masalah akan selesai. Banyak kebiasaan dan hobi buruk yang lahir seiring dengan meningginya status ekonomi dan itu menyebab pertengkaran demi pertengkaran.

Di antara kebiasaan atau hobi buruk itu antara lain :

1. KEBIASAAN KONSUMTIF ISTRI

Di antara segenap pemicu pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga, bahkan sampai yang menjurus perbuatan haram, adalah keborosan sang istri. Acapkali sang isteri membelanjakan uangnya secara membabi buta. Bahkan, jumlah pembelanjaannya terus membengkak dari hari ke hari. Kenyataan tersebut jelas akan menambah beban sang suami dan menuntutnya untuk bekerja lebih keras lagi. Dalam beberapa kasus, hal itu bahkan mendorong sang suami untuk melakukan perbuatan haram (korupsi, misalnya). Itulah awal kehancuran dan kejatuhan sang suami.

2. MEMENTINGKAN PENAMPILAN

Timbulnya pertengkaran juga dapat dilatari oleh masalah gaya hidup dan penampilan diri yang biasanya didorong oleh persaingan dan obsesi untuk maju, serta desakan mode kontemporer sehingga takut disebut ketinggalan zaman. Misalnya, seorang suami berusaha membeli jam tangan malah model terbaru lantaran jam tangannya sudah nampak kuno. Atau seorang istri membeli pajangan model terbaru demi menghias rumahnya, sementara dirinya lupa bahwa keindahan rumah yang sesungguhnya bukan terletak pada benda – benda mati (sekalipun nampak begitu menawan), melainkan pada keharmonisan, dan kebahagiaan hidup penghuninya.

Dalam hal busana dan aksesori, suami sering menyalahkan istri karena menganggap selalu menghambur – hamburkan uang untuk membeli kebutuhan itu. Namun, bagi para istri, mungkin harus tahu juga bahwa suami pun memiliki pengeluaran yang besar untuk hobi.

3. HOBI SUAMI

Memang tak semua hobi mahal dan buruk. Namun, Anda perlu tahu bahwa ada tiga hobi suami (yang harus diwaspadai bila tidak ingin pengeluaran keluarga menjadi bengkak).

A. ROKOK

Tidak bisa disangkal lagi, banyak pria di Indonesia yang menghabiskan uangnya untuk membeli rokok. Parahnya lagi, kalau Anda mau menghitungnya, pengeluaran untuk rokok ini cukup tinggi. Coba bayangkan anggap saja satu bungkus rokok filter isi 12 batang seharga Rp 7.500. sekarang, berapa lama sebungkus rokok itu dihabiskan suami Anda? Kalau sebungkus itu habis dalam waktu sehari, berarti pengeluaran keluarga Anda untuk membeli rokok sekitar Rp 225.000 sebulan. Itu baru rokoknya, belum lagi uang yang mungkin harus Anda bayarkan karena besar kemungkinan suami Anda bisa terkena penyakit paru – paru kronis ketika ia tua nanti.

B. OLAH RAGA

Memang tergantung jenis olahraganya, tapi beberapa bidang olahraga tidak bisa dipungkiri dapat menghabiskan biaya yang cukup tinggi. Ini terutama pada bidang – bidang olahraga yang membutuhkan sejumlah peralatan yang mahal.

Apa saja olahraga yang butuh peralatan? Olahraga sepeda balap atau sepeda gunung, bowling, golf (jelas mahal sekali), bulu tangkis, dan tenis meja. Sekali lagi, tidak semua alat olahraga itu mahal, tetapi beberapa cabang olahraga tersebut memang memerlukan peralatan yang cukup mahal.

C. MAINAN

Yang saya maksud dengan mainan adalah barang-barang yang seringkali membuat suami ketagihan.

  1. Barang Elektronik. Contohnya, peralatan kamera untuk suami yang hobi fotografi atau peralatan sound system buat suami yang gila dalam mendengarkan music.
  2. Otomotif. Segala macam yang berhubungan dengan otomotif, entah itu kendaraan ataupun aksesorisnya.
  3. Pertukangan. Ini adalah hobi yang berkaitan dengan segala macam kegiatan pertukangan. Biasanya sih, kalau seperti ini, mungkin segi positifnya adalah bahwa suami Anda akan lebih sering membetulkan dan merenovasi rumah Anda.

Sekali lagi, hobi merupakan sesuatu yang kadang memang harus dilakukan. Kalau tidak dilakukan, Anda sekeluarga mungkin akan jenuh dalam menjalani hidup ini. Dengan menjalankan hobi, Anda punya kesempatan untuk mengatasi kejenuhan Anda. Jadi, Anda pasti mengeluarkan uang untuk hobi Anda. Tinggal bagaimana Anda bisa mengatasi hobi-hobi tersebut agar jumlah pengeluaran tidak bengkak.

Demikian serba serbi mengenai kebutuhan ekonomi dan hal – hal buruk dari berbagai kebiasaan yang bisa menggoyahkan sendi – sendi rumah tangga. Poin utamanya adalah alangkah baiknya setiap pasangan membuat perencanaan dan pembukuan keuangan yang detil, rutin dan transparan. Ini akan membantu agar biduk rumah tangga dapat berjalan lancar dan mampu mencapai target yang ingin disasarnya. Selamat mencoba!

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 04 / II / April 2009

~ by glesyer on July 19, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: