MONASTISISME DALAM ISLAM

Sudah banyak diantara kita yang tidak mau kawin (monastic) karena berbagai alasan, misalnya tidak mau berkomitmen atau adanya pengekangan oleh salah satu pasangan. Padahal, mereka adalah orang – orang yang mampu yang punya pekerjaan bagus di kantor atau punya usaha di luar. Hingga melewati batas yang sewajarnya, sampai usia 40-an tahun, mereka tetap tidak mau menikah.

Entahlah, apa yang ada di dalam pikiran mereka? Yang jelas, tradisi Barat semacam ini telah merasuk ke kantong-kantong kita dan seperti sudah di anggap sebagai hal yang lumrah. Pada akhirnya, mereka lebih memilih hidup bebas, berzina dan kumpul kebo. Pola hidup seperti inilah yang mereka cari, layaknya sebagian artis – artis barat yang tidak mau berkomitmen pada pernikahan.

Apakah konsep pemikiran di atas dibolehkan dalam Islam?

Monastisisme berasal dari bahasa Yunani, monakhos dari akar kata monos yang berarti sendiri. Maksudnya adalah sebuah praktek keagamaan di mana seseorang manyangkal tujuan – tujuan duniawi, seperti perkawinan hingga mengebiri alat vitalnya, demi mendarmabaktikan hidupnya pada kehidupan akherat.

Semua agama hampir memiliki unsur-unsur monastic, termasuk Islam. Hanya saja, Islam sendiri secara tegas tidak menganjurkan ajaran monastic ini. Sebab, tidak baik buat syiar Islam. Orang – orang yang menjalani kehidupan monastic biasanya disebut monakhos, biarawan, rahib, bruder, frater, atau saudara (laki-laki), atau biarawati, rubiah, suster atau saudari (perempuan).

Menurut Yusuf al-Qaradhawi, Islam melarang kebebasan seks. Islam pun melarang perzinahan dan perbuatan yang mengarah kepadanya. Karena itu, Islam melarang perilaku yang memasung hasrat seks. Sehingga, Islam menganjurkan pernikahan, melarang melajang seumur hidup (tabattul) dan membunuh hasrat seks dengan cara emalkulasi (mengebiri alat vital)

Tidak halal bagi seorang Muslim menolak pernikahan-apabila dirinya telah mampu-alih alih kesibukan mengabdi kepada Allah, konsentrasi beribadah, menganut monastisisme (kerahiban) dan anti dunia. Rasulullah saw pernah mensyinyalir bahwa ada sebagian sahabatnya yang punya kecenderungan untuk menganut pola hidup monastic. Beliau menegaskan bahwa pola hidup tersebut adalah penyelewengan dari jalan Islam dan mengabaikan sunnah.

Penegasan Rasulullah tersebut merupakan penolakan terhadap nalar Kristiani dan lingkungan Islam. Abu Qilabah berkata, “Sekelompok orang dari kalangan sahabat Rasul bertekad untuk anti dunia, meninggalkan wanita, dan hidup monastic. Dengan nada sangat marah Rasulullah bersabda,”Kehancuran orang – orang sebelum kalian adalah karena ekstrimisme.

Mereka membebani dirinya sendiri dan Allah pun membebani mereka. Orang – orang yang tersisa di antara mereka terus menerus berada di gubuk-gubuk dan gereja-gereja. Beribadahlah kalian kepada Allah dan jangan musyrik kepada-Nya. Tunaikanlah haji dan laksanakanlah umroh. Istiqamahlah kalian. Allah akan selalu bersama kalian.” (HR Abdurrazaq, Ibn Jarir dan Ibn Al-Mundzir).

Berkenaan dengan tindakan sahabat di atas, turunlah ayat al-Qur’an yang berbunyi,”Wahai orang – orang yang beriman, janganlah kalian mengharamkan kelezatan-kelezatan yang dihalalkan oleh Allah kepada kalian dan janganlah kalian melewati batas. Sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang-orang yang melewati batas. (QS Al Maidah[4];87)

Menikah adalah salah satu kelezatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Karena itu, kenapa kelezatan ini tidak dilakoni dan justru ditinggalkan? Mereka memikirkan hal – hal yang semestinya tidak perlu mereka takutkan, seperti komitmen, kebebasan, dan tanggung jawab. Jika memikirkan kemandirian, sampai kapanpun tidak ada batassannya. Percayalah sama takdir Tuhan yang mengatur segala rejeki manusia. Ketika kita menikah, insya Allah Tuhanpun telah menakar rejeki kita berdua, termasuk anak-anak yang kelak kita lahirkan.

Termasuk, jika alasan-alasan yang dipakai adalah alasan religious yaitu untuk meningkatkan kadar keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Pernikahan ini tetap tidak boleh kita abaikan. Toh, dengan menikah bukan berarti menghambat kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Justru, dengan adanya pasangan di sisi kita, diharapkan saling mengingatkan dan mempertebal iman kita masing – masing kepada Allah.

Mujahid, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Jarir dalam kitab tafsirnya, berkata,” Sejumlah laki-laki dari kalangan sahabat-diantara mereka ada Utsman bin Mazh’un dan Abdullah bin Umar- bertekad untuk melajang seumur hidup, mengebiri alat vital, dan memakai pakaian lusuh. Maka, turunlah ayat al-Qur’an di atas dan ayat berikutnya.

Ada beberapa sahabat yang bertanya mengenai ibadah Rasulullah. Ketika dikabari perihal ibadah beliau, mereka merasa bahwa betapa minim ibadah yang mereka lakukan. Mereka berkata, “Apalah artinya ibadah kita dibanding dengan ibadah Rasulullah? Padahal, beliau telah diampuni dosanya oleh Allah, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.” Salah seorang di antara sahabat tersebut berkata, “Kalau begitu, aku akan puasa seumur hidup dan tidak akan berbuka satu haripun.” Sahabat yang lainnya berkata,”Aku akan ibadah malam setiap saat dan tidak akan tidur.” Sahabat yang ketiga berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah seumur hidup.”

Ketika Rasulullah mendengar perihal tekad sahabat – sahabatnya tersebut, beliau menjelaskan bahwa sikap tersebut adalah tindakan keliru. Beliau segera meluruskan pola pandang mereka dan berkata, “Aku ini adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan paling takut kepada-Nya dibanding kalian. Aku biasa bangun malam tapi akupun tidur sebelumnya. Aku berpuasa dan aku berbuka. Aku pun menikah dengan wanita. Barang siapa yang tidak mengikuti sunnahku maka ia bukan bagian dari umatku.”

Ya, Rasul saja yang paling dekat dengan Allah tetap menikah, bahkan lebih dari satu kali. Meskipun harus digarisbawahi alasan dan latar menikah lebih dari satu. Begitu juga sahabat – sahabat dekat Nabi lainnya, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, mereka tetap menikah dan punya istri lebih dari satu. Padahal, mereka adalah orang – orang yang dijanjikan Allah akan masuk surge. Tetapi, mereka tetap ingat pada kelezatan-kelezatan dunia seperti menikah. Kenapa kita tidak mengikuti dan justru menjauhinya hanya alasan ingin dekat kepada Allah-apalagi kalau alasannya takut pada komitmen dan tanggung jawab?

Ini adalah sebuah pemikiran yang sangat keliru dan sangat klasik (kuno). Sebuah pemikiran yang sangat kaku menafsirkan persoalan syariah Nabi. Mereka lebih mengedepankan sisi sufistiknya saja. Padahal, keseimbangan antara syariah dan sufistik itu sangat perlu.

Sa’ad bin Abi Waqash berkata, “Rasulullah melarang Utsman bin Mazh’un melajang seumur hidup. Apabila Rasulullah mengizinkan kepada Utsman, kami akan mengebiri alat vital.”

Sa’ad saja mengerti akan maksud perkataan Nabi yang melarang monastisisme. Kita yang hidup di zaman modern, yang sangat dekat dengan segala kenikmatan dunia mestinya jauh lebih mengerti tentang itu dan menjadikan pernikahan sebagai satu hal yang sangat penting dalam hidup kita, bukan untuk ditakuti dan dijauhi. Sebab, menghindari pernikahan sebenarnya sama saja dengan menghindari kita untuk tidak mau bekerja dan berusaha. Keduanya, sama-sama berdosa jika kita tidak melakukannya, padahal kedual hal itu sangat penting.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, orang yang disinyalir memiliki kedekatan yang luar biasa dengan Tuhan, saja selama hidupnya pernah menikah dengan beberapa orang istri dan memiliki beberapa orang anak dari pernikahan itu. Lantas, kenapa kita berusaha untuk menjauhinya? Toh, dengan pernikahan itu sendiri, Syaikh Abdul Qadir tidak mengurangi rasa kecintaan dan kedekatannya kepada Allah.

Rasulullah bersabda, “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk menikah, menikahlah. Sebab, pernikahan dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan.” (HR Bukhari)

Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama berkata,” Menikah adalah wajib bagi orang Muslim. Tidaklah halal bagi orang Muslim meninggalkan pernikahan selama dirinya mampu.” Ulama lain memberi catatan bahwa kewajiban menikah adalah bagi orang yang telah mampu melakukannya dan khawatir terjatuh pada perzinahan.

Menurut Yusuf al-Qaradhawi, seorang Muslim tidak pantas meninggalkan pernikahan karena alasan takut tidak bisa membiayai keluarganya nanti. Ia wajib berusaha, bekerja, dan mengharap karunia serta pertolongan Allah yang dijanjikan oleh-Nya kepada orang – orang yang menikah dengan tujuan menjaga kesucian dan kehormatan diri, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an;

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang wanita. Jika mereka miskin, Allah akan mampukan mereka dengan karunia-Nya,” (QS. Al-Nur [24]:32)

Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga orang yang wajib ditolong oleh Allah. Pertama, orang yang menikah dengan niat menjaga kesucian. Kedua, hamba sahaya yang berusaha untuk menebus kemerdekaanya dengan jerih payahnya. Ketiga, orang yang berjuang di jalan Allah.” (HR. Ahmad. Al-Nasai, Al-Tirmidzi, Ibn Muajah, dan Al-Hakim).

So, kenapa kita takut untuk menikah?

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 09 / II / Oktober 2009

~ by glesyer on July 16, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: