KOMPROMI dan SALING MEMAHAMI

Kompromi atau musyawarah adalah kunci dalam mencari titik mufakat. Sayangnya, ada banyak problem dalam cara mengungkapkannya, sehingga seringkali masing – masing pasutri sering menangkap maksud yang berbeda dari apa yang disampaikan pasangannya.

“Punya masalah jangan disimpan, utarakan dengan benar…..” terang sebuah iklan teh di berbagai stasiun televisi. Alkisah, seorang ibu hendak mencuci piring dan merapikan dapurnya. Namun ketika keran wastafel hendak diputar, malah keran tersebut tercabut. Airpun kontan menyembur ke arah mukanya. Dengan perasaan kesal campur marah, ia segera menemui suaminya yang malah asyik duduk baca koran di teras rumah.

“Pa! kok bisa sih lihat rumah berantakan kayak kapal pecah!”hardik sang istri.

“Apa?Bisul pecah?”sahut suaminya dengan air muka tak berdosa, tanpa sedikitpun menggeser pandangannya dari koran yang dibacanya.

Sejenak, sang istri pun bergumam, bahwa mungkin ada yang salah dengan perkataannya, sehingga suami pun menangkap maksud lain dari omonganya dan membiarkan dirinya. Sesaat segera ia meredakan emosinya dan masuk ke rumah untuk kemudian membawakan secangkir teh untuk suaminya.

“Pa….mumpung lagi nyantai, betulin keran yang rusak yuk…”ujar sang istri lembut dan santai.

“O iya….papa lupa, ayuk ayuk….”jawab suaminya ringan pula dengan senyum mengembang dan merangkul sang istri masuk ke rumah.

Mengkomunikasikan atau menyampaikan keinginan kita dengan benar kepada orang lain bisa dibilang gampang – gampang susah. Adakalanya maksud kita mudah ditangkap dan dicerna dengan baik. Namun tidak sedikit yang menangkap beda dari apa yang kita kehendaki dan sampaikan.

Apalagi, maksud omongan kita disampaikan dengan nada emosional. Tentulah akan macam – macam pula kesan dan pesan yang ditangkap si pendengar atau lawan bicara kita. Tak terkecuali dengan hubungan relasi pasutri, dibutuhkan cara khusus agar komunikasi yang terjalin tidak mandeg. Harus ada upaya untuk terus menerus mengungkapkan reaksi positif kepada masing – masing pasangan. Pasalnya, terhambat dalam mengungkapkan emosi positif, terhambat dalam mengungkapkan sumber konflik perkawinan yang nyata bisa berakibat fatal.

Momen dan bahasa yang pas

Dalam kasus (iklan) di atas, jelas komunikasi memang menjadi problem dari persoalan yang dihadapi. Padahal dengan berkomunikasilah setiap persoalan akan menemui titik jawabnya. Jika pasutri sejak awal telah menyadari bahwa komunikasi adalah solusi permasalahan namun masih juga menemui jalan buntu, segera  koreksi apa yang salah dalam mengkomunikasikan persoalan yang tengah dihadapi. Jangan – jangan faktor cara menyampaikan menjadi masalah atau kendala baru, sehingga pasangan kita malah menangkap maksud lain dari apa yang kita sampaikan.

Selain cara menyampaikan pendapat atau pandangan, faktor bahasa atau kalimat yang baik serta momen atau waktu yang pas, juga cukup menjadi pertimbangan. Bisa dibayangkan bagaimana bila seorang suami yang seharian bekerja di kantor, begitu pulang ke rumah langsung diberondong persoalan rumahtangga oleh istrinya. Penat yang belum saja luruh dari pikiran dan badannya, niscaya akan semakin meresap ke dalam jiwanya sering dengan berondongan persoalan yang disuguhkan sang istri.

Alih – alih pulang ke rumah ingin berbagi cerita dengan pasangan, justru pasanganlah yang makin menambah persoalan. Bila kondisi ini rutin terjadi tanpa segera dikomunikasikan, niscaya akan menimbulkan konflik dalam rumah tangga.

Bahasa atau kalimat dalam berkomunikasi pun jangan dianggap remeh. Betapa sedih dan kesalnya jika istri yang sudah berusaha mengatur keuangan dapur bulanannya tiba – tiba kebobolan karena ada keperluan keluarga yang mendadak, lalu meminta tambahan keuangan pada suaminya, namun malah dihardik. Parahnya, sang suami malah menuding istrinya boros, tanpa sedikitpun mau mendengar penjelasan istrinya.

Kompromi adalah milik berdua

Salah satu kunci langgengnya perkawinan adalah kesadaran kompromi yang datang baik dari pihak suami maupun istri. Nah, bila beberapa waktu belakangan  pasangan sepertinya sulit diajak kompromi, mungkin ada baiknya kita mulai bicara dari hati ke hati untuk menyingkapkan apa persisnya alasan yang menyebabkan pasangan jadi sulit kompromi. Tak sedikit suami yang memang sulit untuk diajak kompromi. Walau tak sedikit juga pihak istri yang juga sulit di ajak kompromi. Sebenarnya, apa penyebab pasangan atau bahkan kita sendiri yang sulit diajak kompromi?

Faktor lingkungan dan keluarga memang berperan penting dalam pembentukan karakter seseorang jika pasangan sulit diajak kompromi, bisa saja hal ini dikarenakan faktor ego yang cukup tinggi dalam diri pasangan. Hal ini bisa disebabkan dari faktor lingkungan. Kita ambil contoh, jika pasangan merupakan anak sulung dan secara tidak langsung ia menjadi kepala keluarga, atau mungkin ia merupakan ‘pangeran’ di dalam rumah, sehingga semua yang diinginkan pasti terpenuhi.

Hal ini akan menyebabkannya menjadi sulit berkompromi dengan kita. Ia merasa memiliki banyak tabungan solusi bagi masalah yang pernah dihadapi di dalam keluarganya maupun masa lalunya. Hingga ketika masalah timbul dalam rumahtangganya saat ini, ia merasa yakin mampu menyelesaikan dan memberikan solusi (dari apa yang dialaminya di masa lalunya). Padahal, belum tentu solusi yang disampaikan sesuai dengan keadaan saat ini atau menjamin keberhasilan dia dan pasangannya dalam menghadapi masalah yang dihadapi di masa kini atau masa mendatang.

Selain faktor lingkungan, kesulitan pasangan dalam berkompromi merupakan bagian dari perasaan insecure terhadap hubungan rumahtangga. Atau bisa juga sebenarnya pasangan merasa gengsi mengatakan tidak tahu, atau bahkan tidak mengerti terhadap masalah yang ia dan pasangannya hadapi. Sehingga ia menutupinya dengan memaksakan kehendaknya.

Proses Pembelajaran Diri

Ketika kita terbentur suatu masalah, sebaiknya jadikan sebagai proses pembelajaran bagi kita dan pasangan. Seorang istri, misalnya, harus mampu berpikir secara rasional agar masalah dirinya dan suami dapat terselesaikan secara win win solution. Dan bagi pasangan, kompromi ini dapat dijadikan sebagai latihan untuk mengalahkan ego agar mau mendengarkan istrinya. Intinya, baik istri maupun suami harus mau membuka diri untuk mencapai suatu perubahan.

Selain itu, perlu juga untuk fokus terhadap masalah tersebut. Apabila mulai terjadi konflik dan sulit mencapai kata sepakat, ada baiknya bagi suami maupun istri memberanikan diri fight untuk mencari jalan tengah. Beradu pendapat sesekali perlu dilakukan untuk mengajari pasangan agar tidak terlalu egois dalam menyelesaikan masalah.

Kondisi itu dilakukan bukan untuk melawan suami atau merendahkan istri yang akhirnya akan menimbulkan keributan, tapi justru untuk menghindari tekanan batin pada diri istri atau suami yang dapat berakibat buruk di kemudian hari.

Jangan terlalu sering menerima jalan keluar hanya untuk menghindari konflik dengan pasangan, padahal sebenarnya kita tidak menerima keputusan tersebut. Hal ini Cuma akan membuat pasangan merasa sepenuhnya benar karena secara tak langsung kita terus membangun istana bagi egonya.

Bagi terus pujian

Bila pasutri telah berhasil membangun jembatan komunikasinya, perlu juga bagi mereka untuk membiasakan diri memberi pujian dan penghargaan. Sekalipun untuk hal – hal kecil. Cara ini dimaksudkan agar pasangan merasa dihargai dan selalu merasa bahagia.

Misalnya, suami yang tahu kalau istri sudah bersusah payah ingin menyediakan menu istimewa untuk dirinya, berilah pujian dan ucapan terimakasih. “Mantap sekali bumbu ayam bakar buatanmu ini, resto ayam bakar bintang lima saja masih kalah!” Atau bila suami berpenampilan bersih dan serasi suatu pagi, ungkapkanlah penghargaan terhadap penampilannya dengan misalnya,”Hari ini kamu keren banget.”

Pada awalnya pasti serasa janggal, tetapi lama kelamaan pasti terbiasa. Yang penting, setiap perubahan sikap positif sedikit pun dari pasangan harus dihargai. Ketahuilah, penghargaan terhadap pasangan yang tulus, dengan ungkapan disertai kontak mata penuh kasih, akan membuat iklim relasi keseharian dengan pasangan terasa nyaman.

Sesekali kesal dan marah adalah hal biasa, tetapi ungkapkan pula rasa kesal atau marah dengan cara lebih bijaksana, agar, sekali lagi, pasangan tidak salah tangkap dengan apa yang kita sampaikan.

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 04 / II / April 2009

~ by glesyer on July 16, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: