KETIKA PERNIKAHAN BERUJUNG GANGGUAN JIWA

Pernikahan tak dapat dipungkiri merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan kejiwaan bagi seseorang. Gangguan itu bisa berupa stress, depresi, atau bahkan gangguan kejiwaan berat. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Dan bagaimana pula upaya yang dapat dilakukan untuk mencegahnya ?

Ini kisah dari Bali. Seorang wanita berparas cantik tampak tertawa cekikikan. Kalau dalam kondisi diam, pastilah tak ada orang yang menyangka kalau perempuan itu sakit jiwa. Perempuan itu terganggu mentalnya setelah suaminya kawin lagi. Awalnya ia tampak sekilas dimadu, tapi setahun berselang ia mulai menunjukkan gejala sakit jiwa, hingga kini berkeliaran di jalan.

Kejadian lain terjadi di Palembang. Seorang perempuan bernama Ati harus dirawat di rumah sakit Mohammad Hoesin, karena menderita luka tusuk. Yang menusuk Ari ternyata suaminya sendiri.

Ati sebenarnya tak sedang berkonflik dengan suaminya. Tapi sang suami baru satu tahun ini kembali ke rumah setelah enam tahun dirawat di rumah sakit jiwa. Sang suami menderita gangguan jiwa setelah lahannya diserobot perusahaan tanpa ganti rugi. Sejak itu ia menjadi langganan rumah sakit jiwa. Ari tetap sabar dan merawat suaminya sepenuh hati selama suaminya sakit sampai kemudian tragedy penusukan terjadi.

Ada lagi kisah dari Garut. Seorang wanita bernama Yani Muryani, dikurung oleh keluarganya dalam kerangkeng bamboo selama Sembilan tahun karena gangguan jiwa. Yani diberitakan sering mengalami kekerasan oleh suaminya selama menikah. Kekerasan ini berlangsung secara terus menerus sampai Yani melahirkan anak keduanya. Setelah itu suaminya pergi sambil membawa anaknya dan membiarkan Yani dalam kondisi jiwa yang tertekan. Inilah yang kemudian memicu kegilaan Yani dan tak mampu ditanggulangi keluarganya karena masalah biaya.

Jika tiga kisah ini menghadirkan gangguan kejiwaan yang berasal dari kekerasan fisik dan psikis yang diterima, sebuah kasus lain agak berbeda. Seorang perempuan dalam sebuah rubric konsultasi psikologi mengaku mengalami tekanan kejiwaan justru karena kondisi rumah tangganya baik – baik saja. Ia memiliki suami yang baik dan tak kekurangan secara materi. Tapi dihantui perasaan tidak berguna karena hanya berperan sebagai ibu rumah tangga.

Kondisi suaminya yang berkucupan dan penyayang justru membuatnya dihantui perasaan takut kehilangan yang besar. Emosinya menjadi sangat labil, bisa sangat gembira dan menjadi pribadi yang menyenangkan tapi di lain waktu menjadi pribadi yang sangat murung dan memendam kesedihan yang berat.

Diyakini banyak sekali kasus serupa ini dengan variasi beragam dalam masyarakat kita. Apalagi di tengah tekanan hidup semakin berat sekarang ini. Kesulitan – kesulitan hidup yang dihadapi kerap menjadi pemicu utama terjadinya tekanan kejiwaan pada seseorang. Kadarnya tentu saja berbeda – beda. Ada yang hanya ‘pusing’ saja, ada yang stress, depresi, bahkan sampai terkena gangguan jiwa (bahkan mencoba bunuh diri)

Persaingan yang semakin sulit untuk dimenangkan, harapan yang  sangat tinggi dan tak realistis dalam memenuhi kebutuhan hidup juga bisa menjadi ruang bagi rusaknya tatanan mental seseorang. Kasus gangguan jiwa yang dialami calon Bupati Ponorogo yang kalah dalam pemilihan bupati tahun lalu bisa menjadi contoh. Hal serupa ini diyakini banyak pihak akan terjadi pula selama berlangsungnya PEMILU tahun 2009 lalu.

Kondisi ini semakin membenarkan sebuah pernyataan bahwa pernikahan memang merupakan sumber kebahagiaan yang besar. Tapi di luar itu karena merupakan kesepakatan dari dua pribadi yang berbeda, serta disertai tanggung jawab yang tak sepele, pernikahan juga bisa menjadi sumber stress yang cukup dominan dalam kehidupan seseorang.

Konflik dan Percecokan

Psikolog dari Universitas Indonesia, Aliah B. Purwakania Hasan, menyebut bahwa berdasar sebuah penelitian, faktor keluarga memang kerap menimbulkan stress pada seseorang. Kematian pasangan hidup, perceraian, pisah ranjang, terpenjara, kematian anggota keluarga yang dekat, penyakit parah, dan pernikahan merupakan unsure yang bisa memicu stress.

“Dalam pernikahan, masalah utama yang menjadi pemicu stress biasanya adalah bagaimana menyesuaikan diri dengan pasangan hidupnya. Hal ini bisa tidak menyenangkan kalau diwarnai dengan konflik yang berkepanjangan, bahkan sampai pisah ranjang atau bahkan berujung pada perceraian.”ujarnya.

Menurut psikolog yang juga penulis buku ini, masing – masing pihak, baik suami maupun istri, secara umum sama – sama memiliki kerentanan mengalami stress. Tapi sebenarnya faktor stress ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk menghadapi stres yang dialami atau yang disebut coping strategy.

Kemampuan ini meliputi keterampilan untuk mencari sumber daya, baik emosional maupun instrumental, dalam mencari solusi menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kemampuan ini juga ditentukan oleh faktor genetika.

“Jadi orang yang memiliki susunan genetika tertentu yang lebih cemas akan lebih gampang mengalami depresi dibandingkan dengan orang yang tidak memilikinya. Jadi, orang yang memiliki coping strategy lebih baik, biasanya lebih mampu menghadapi stress,”ujarnya.

Dalam hal ini, menurut Aliah, bisa saja suami lebih baik dibandingkan isterinya, atau isterinya justru lebih baik dari suaminya dalam menghadapi stress.

Namun, biasanya perempuan lebih memiliki kemampuan untuk mencari dukungan emosional dari orang lain ketika menghadapi stres. Sementara laki – laki lebih memiliki kemampuan yang bersifat instrumental, mencari sumber daya impersonal lain untuk menyelesaikan masalahnya.

Kamarusdiana, dosen di jurusan Peradilan Agama, Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyebut, kalau dilihat dari prosentase sebab perceraian saat ini, stress dalam rumah tangga biasanya disebabkan faktor ekonomi.

“Ini kalau kita melihat dari sisi itu, dan umumnya yang mengajukan gugatan adalah pihak perempuan. Mereka tak kuat menanggung beban ekonomi yang berat dalam pernikahan,” ujar pria yang juga menjadi pengasuh Pondok Pesantren Darus Salam Cinangka ini.

Faktor inilah yang kemudian menciptakan cekcok atau dalam istilah hukum disebut syiqaq dalam rumah tangga. Dari cekcok inilah kemudian lahir perasaan menderita, stress, depresi dan sebagainya, yang berujung pada gugatan cerai.

“Dalam hukum Islam ada prosedur perdamaian yang dilakukan oleh Hakam yakni pihak ketiga yang berupaya mencari jalan keluar dalam permasalahan rumah tangga. Hakam ini bisa dari pihak keluarga atau dari pihak lain yang dipercaya. Kalau proses ini berhasil, cekcok rumah tangga biasanya tak sampai pengadilan. Namun jika sudah sampai pengadilan, biasanya masalah yang dihadapi memang sudah demikian rumit hingga sulit dicarikan jalan keluarnya,” ujarnya lagi.

Tapi, Kama menambahkan, perlu dipahami bahwa dalam hukum Islam, stress atau gangguan kejiwaan yang berat tidak menjadikan perkawinan menjadi gugur. Hanya murtad yang membuat perkawinan menjadi gugur secara otomatis. Namun stress dan depresi itu bisa menjadi alasan satu pihak untuk menjadi alasan satu pihak untuk mengajukan perceraian.

“Jika salah satu pasangan mengalami gangguan jiwa berat dalam rumah tangga yang tidak berasal dari cekcok, hal itu terjadi karena proses ta’aruf sebelum menikah berjalan dengan tidak baik. Sudah merupakan satu kewajiban seseorang yang ingin menikah mengetahui bagaimana kondisi pasangan yang akan dinikahinya. Kalau itu diketahui, semisal orang yang akan menikahi perempuan yang tak memiliki rahim, ia harus menanggung resiko itu selama perkawinan, artinya ia harus siap tidak memiliki keturunan, begitupun dalam kasus gangguan jiwa,”ujar Kama lagi.

Menguatkan Keimanan

Prof. Dr. Quraish Shihab dalam bukunya Pengantin Al Qur’an menyebut, sebenarnya jika pondasi keluarga didirikan atas dasar kaidah keislaman, pengantin muslim tak perlu menuai keburukan dan kejelekan dalam rumah tangganya.

Sakinah sebagai ketenangan dan ketentraman yang diraih setelah adanya gejolak dalam diri dua insan, tak lahir dengan begitu saja. Ia lahir dari proses kebersatuan pemahaman dan kesucian hati dua insane dalam pandangan yang jelas dan tekat yang kuat.

Kondisi sakinah ini sendiri berdiri dari tali temali yang saling melengkapi yakni mawaddah, rahmah, dan amanah. Mawaddah merupakan kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk, sehingga pintunya tertutup untuk dihinggapi keburukan lahir dan batin yang mungkin datang dari pasangannya.

Indicator bagi terciptanya mawaddah dalam rumah tangga adalah jika pasangan sama – sama memiliki kesediaan hidup bersama walau dalam kemiskinan dan penderitaan; menunjukkan kesabaran dan toleransi terhadap pasangan; mengakui dan bersedia menerima kelebihan dan kekurangan pasangan; mewujudkan saling penghargaan dan berkorban atau mengalah demi cinta pasangan serta berupaya menyenangkan pasangan.

Mawaddah ini harus diperkuat dengan rahmah yaitu kondisi psikologis yang muncul di dalam hati untuk melakukan hal – hal yang terbaik bagi pasangan.

Indicator bagi rahmah diantaranya adalah jika lahir tekad dan kesungguhan mendatangkan kebaikan bagi pasangannya dan menolak segala yang mengganggu dan meruntuhkan pasangannya. Rahmah juga berarti setiap pasangan menutupi segala kekurangan pasangannya dan bersabar menanggung segala ujian pada pasangannya.

Sementara tali terakhir adalah amanah yaitu pemberian rasa kepercayaannya bahwa apa yang diamanatkan itu akan dipelihara dengan baik, serta aman keberadaannya di tangan yang diberi amanat itu. Jadi setiap pasangan merasa diamanatkan untuk senantiasa menciptakan dan memelihara kebaikan dalam rumah tangga.

Ini jugalah yang disitir Aliah sebagai hal terpenting yang harus dipelihara jika suami istri ingin memiliki kesehatan mental yang baik.

“Faktor utama kesehatan mental seseorang adalah bagaimana ia mengesakan Allah swt, yakni tauhid. Artinya, seseorang tidak perlu mengalami stress yang berlebihan jika ilah-nya adalah Allah swt, tiada tuhan selain Allah,”ujarnya.

Bagi Aliah, jika materi sudah menjadi Tuhan bagi seseorang, maka siap-siaplah untuk menyongsong stress dalam rumah tangga.

“Islam mengajarkan manusia untuk selalu bersabar dalam menghadapi masalah dan ujian kehidupan, termasuk hidup berumah tangga. Kesabaran itu adalah sesuatu yang dilandaskan iman kepada Allah swt. Hal yang sering dilupakan adalah bahwa sabar tidak semata – mata kemampuan mengontrol atau daya tahan emosional (emotional focused), tetapi juga harus berorientasi pada pemecahan masalah (problem focused).

Artinya masalah yang ada jangan dibiarkan begitu saja, tetapi seseorang harus tahan dan lurus untuk terus berusaha dalam menyelesaikan masalahnya,”ujar Aliah dengan pasti.

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 04 / II / April 2009

~ by glesyer on July 16, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: