KATAKAN DENGAN BENAR, BUKAN DI PENDAM

Perselisihan adalah penyebab percerain nomer dua. Perselisihan timbul karena kesalahan pengertian dalam komunikasi. Bagaimana agar komunikasi dengan pasangan berjalan baik?

Endro tidak berperasaan, begitulah penilaian Dian, istrinya. Sudah tahu ia kelelahan setelah seharian bekerja, tapi sedikitpun tidak ada itikad Endro untuk meringankan bebannya. Semua harus ditangani sendiri, mengurus anak, mengerjakan pekerjaan rumah, mengantar anak ke sekolah, membayar tagihan rumah, listrik, air. Semua harus dipikirkan dan dikerjakan Dian sendiri. Berulang kali Dian membicarakan keberatannya pada sikap Endro, tapi tak ada yang membuahkan hasil, malah berujung pada pertengkaran. Endro semakin tidak peduli, tidak mau tahu, masa bodoh, cuek bebek. Dian sudah tak kuat lagi, ia putus asa menghadapi sikap suaminya.

Masalah yang dihadapi Dian, terjadi pada banyak pasangan. Suami tidak punya perasaan, atau istri yang kelewat banyak tuntutan, akibatnya, masalah – masalah yang seharusnya dapat dibicarakan ini bisa bertemu di pengadilan. Komunikasi adalah kunci keharmonisan rumah tangga, menurut banyak pakar konsultan pernikahan. Mendengar dan berbicara, seringnya dianggap biasa, padahal dua hal ini sangat penting dalam mengayuh kehidupan bersama. Salah sikap dalam bicara dan mendengar kerap kali mengakibatkan bahtera rumah tangga terseret ke tepi jurang perpisahan.

Bagaimana cara berkomunikasi agar mencapai tujuan yang diharapkan? Ada tiga hal yang bisa dilakukan.

1. Tetapkan tujuan

Gara – gara perbedaan selera makan. Kanselir Jerman Gerhard Schroeder bercerai dengan istrinya, Hillu. Schroeder sangat menggemari sosis, padahal ia mempunyai masalah dengan kelebihan berat badan. Sebagai istri, Hillu melarang suaminya memakan makanan kesukaannya itu. Ia mati – matian menolak menyajikannya setiap acara makan. Keadaan ini memicu konflik sampai akhirnya mereka bercerai. Schroeder kemudian menikah dengan Doris. Berbeda dengan Hillu, Doris menempuh jalan diplomatis untuk menyajikan makanan kesukaan suaminya. Ia membujuk setahap demi setahap, seperti seorang ibu yang membimbing anak – anaknya berjalan. Dan berhasilkah Doris melakukan tugasnya?

Menurut Faudzil Adhim, cara kita mengkomunikasikan sesuatu ternyata acapkali lebih penting dari apa yang disampaikan. Salah menyampaikan, meski berangkat dari perasaan cita dan kasih sayang bisa berbuah permusuhan dan kebencian. Itikad yang baik, tidak cukup membawa perubahan meski perkara yang kita kemukakan seluruhnya untuk kebaikan orang yang kita ajak bicara.

Dale Carnegia memberi nasehat bijak, katanya, kalau mau ambil madu, jangan tending sarang lebahnya. Menyampaikan pesan harus tahu apa tujuan kita mengatakannya. Jika ingin pasangan kita berhenti mengkonsumsi makanan yang membahayakannya, Anda harus mencari cara bagaimana agar suami menghentikan kebiasaan buruk itu, bukan seperti polisi yang menangkap pencuri. Hindari kalimat kritikan,mencerca atau mengeluh, seperti yang Hillu lakukan.

Kalimat positif akan membangkitkan respon yang positif pula. Mungkin Anda dapat mencontoh sebuah iklan teh yang sering muncul di televisi.

Sebelum ia meminta pertolongan suaminya, sang istri memberikan kehangatan teh, dengan raut hangat, kata – kata mengajak. Sehingga suami pun dengan senang hati melakukannya. Lihatlah Doris, baginya masalah yang dihadapi Schroeder harus dituntaskan.

Begitu pula seharusnya yang dilakukan Dian. Sikap suaminya memang harus diluruskan agar Dian tidak harus menjalankan pekerjaan seorang diri. Dian harus menetapkan tujuan, yakni ingin Endro berperan aktif membantu pekerjaan rumah. Melakukan pekerjaan rumah tangga seperti tidak ada habisnya. Jadi, dian butuh bantuan suami untuk menyelesaikannya.

2. Lihat situasi

John Dewey seorang filsuf Amerika mengatakan bahwa sifat dasar manusia adalah hasrat menjadi penting. Segala yang diperbuatnya, yang paling baik menurutnya. Karena merasa penting, setiap manusia menjadi merasa benar. Apa yang dilakukannya adalah baik menurut pendapatnya. Sangat sulit untuk mengubah keadaan ini. Tak ada yang tepat dilakukan selain membicarakan dari hati ke hati.

Situasi sangat menentukan efektif tidaknya komunikasi. Situasi yang salah akan berdampak buruk. Menimbulkan emosi negative yang akan berdampak pada kegagalan dalam menyampaikan pesan. Sekali gagal, akan sulit untuk kembali membangkitkan minat dalam berkomunikasi. Jika pasangan Anda lebih senang menghabiskan waktu untuk melakukan kegiatan lain, dari pada bercakap tentang kegiatanya hari itu, mungkin sebuah tanda bahwa berbicara dengan Anda kurang menarik minatnya.

Mencari waktu yang tepat harus sangat hati – hati, melihat kondisi, mood, dan perasaan ketika akan membicarakannya. Selain itu, jauhi keinginan bahwa komunikasi Anda akan berhasil hanya dalam sekali bicara.

Lihatlah pengalaman Doris, ia membutuhkan waktu bertahun – tahun sampai akhirnya Schoeder secara sadar meninggalkan kebiasaan yang sangat berbahaya bagi kesehatannya. Selain itu, setiap manusia juga tidak ingin kekurangannya diketahui oleh orang lain, karena itu ia lebih senang menyembunyikannya dari pada merubah kebiasaanya. Endro mungkin saja memiliki banyak kekurangan, karena itu bila Dian membicarakannya di depan teman akan menjatuhkan martabat Endro, yakinlah ia tidak akan merubah, yang ada ia justru akan membalas dengan mencari kelemahan – kelemahan Dian.

Bicarakanlah pada waktu – waktu santai, sedang berdua, atau menjelang waktu tidur. Lihat situasi ketika perasaannya sedang bahagia, dengan bahasa yang halus, tidak menyinggung perasaan, sedikit humor, hindari kalimat langsung, atau membanding-bandingkan dengan suami lain. Setelah itu puji pula beberapa sikap yang disukai Dian pada Endro. Pujilah apabila sedikit perubahan yang dilakukan Endro, terus mendukung perubahannya, tetaplah bersabar, karena merubah kebiasaan orang memang tidak gampang.

3. Katakan dengan Jelas

Artis Astri Ivo, yang kini aktif dalam berbagi kegiatan ceramah, menjadi mubaligh, dan berbagai kegiatan social, adalah seorang pembicara yang kaya dan pandai menyampaikan sesuatu dalam berbagai ungkapan. Tadinya, ia seorang ibu yang lebih banyak diam, menyimpan segala persoalan sendiri.” Dulu, saya sering menangis. Kenapa sih suami saya tidak mau mengerti, harusnya kan dia tahu apa dan bagaimana perasaan saya,”ungkapnya pada sebuah majalah. Bukannya suaminya tak mau mengerti, ia memang benar – benar tidak tahu apa keinginan istrinya. “Kalau kamu hanya diam, bagaimana saya tahu apa yang kamu inginkan?”ucap suaminya.

Kalimat itu direnungi secara mendalam. Benar, bagaimana suaminya akan tahu apa maksudnya, apa perasaannya, apabila ia hanya diam dan memberikan sinyal – sinyal yang tidak bisa ditangkap. Karena tak ada lagi cara selain bicara, sejak saat itu, Astri banyak berbicara untuk mengungkapkan semua perasaan yang dirasakannya.

Laki – laki bukanlah ahli nujum yang dapat membaca perasaan pasangannya. Pria banyak menggunakan akalnya, sementara wanita banyak menggunakan perasaannya. Kita tentu sering mendengar ungkapan itu. Karena banyak menggunakan akal, kepekaan pria seringkali tidak terasah, ia tidak mengetahui apa yang harus dilakukan kalau tidak dikatakan dengan jelas. Sementara wanita, dengan kelebihan yang dimiliki, mampu menangkap sinyal – sinyal di sekelilingnya, tanpa dikatakan ia dapat menangkap pesan. Karena itu, wanita selalu pandai membaca situasi walau tanpa bahasa verbal.

Adakalanya, wanita keliru dalam berkomunikasi, seperti Dian, ia ingin mengatakan kekesalannya pada Endro dengan memperlihatkan wajah kesal, jengkel, mengeluh, marah – marah tanpa tujuan. Tentu saja Endro yang tidak peka, tidak mengerti apa yang dia maksud. Bisa jadi Endro malah menangkap, ternyata istrinya pemarah, cerewet, mau bicara apapun jadi malas. Agar tidak terjadi salah paham, katakana dengan jelas apa yang Dian ingini. Jangan menggunakan symbol – symbol yang bisa bermakna ganda. Dengan demikian, tidak ada lagi kesalahpahaman, kesalahpengertian di antara pasangan. Rumah tangga ibarat sebuah bangunan yang disusun dari berbagai keadaan, kebahagiaan, kesulitan, ujian. Untuk menjadikan bangunan itu kokoh, kesabaran adalah kuncinya. Allah swt berfirman : Dan (ingatlah juga), ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti akan kami tambahkan nikmat padamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), sesungguhnya azabku sangat pedih.’(QS:Ibrahim:7)

Semoga ini bisa menjadi sarana berbagi dan sharing ide yang pada gilirannya mampu memberikan bekal tambahan bahwa komunikasi adalah pondasi dasar yang harus dipupuk sehingga tidak melahirkan perselisihan dan berujung konflik rumah tangga.

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 04 / II / April 2009

~ by glesyer on July 16, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: