DARI DEPRESI SAMPAI SKIZOPRENIA

Umumnya gangguan kejiwaan dalam rumah tangga terjadi karena perselisihan, serta masalah berat yang tak dapat ditanggulangi oleh suami dan istri. Hanya sebagian kecil kasus gangguan jiwa yang berasal dari aspek kejiwaan bawaan.

Pernyataan Agustine Dwiputri, seorang psokolog dalam tulisannya di harian Kompas, Februari lalu, pantas dicermati. Perkawinan sebagai sebuah perwujudan dari relasi laki – laki dan perempuan ternyata memiliki dua kutub ekstrem, yakni dapat menjadi sumber kebahagiaan yang besar namun juga dapat menjadi sumber stress yang kuat dalam hidup.

Menurut Agustine, ini terjadi karena dua pribadi yang menyatu dalam perkawinan, memiliki pikiran, keinginan, latar belakang, dan harapan berbeda-beda. Inilah yang berpotensi menimbulkan stress dalam rumah tangga.

Istri yang terbiasa membuang sampah ke tempatnya pastilah akan terganggu jika melihat suaminya yang sering menaruh pakaian kotor sembarangan. Begitu juga dalam hal memasak. Ada suami yang ingin istrinya memasak di rumah karena ibunya memang selalu melakukan itu. Tetapi ada istri yang malahan tak menganggap hal itu penting karena ia lahir dari ibu yang merupakan wanita karier.

Demikian pula dalam tontonan. Suami yang lebih senang menonton film perang pastilah terganggu jika melihat istrinya saban hari nonton sinetron. Perbedaan inilah yang jika tidak  dikompromikan dengan kepala dingin akan menghadirkan masalah dalam relasi suami istri.

Di luar itu, masih ada faktor lain. Suami yang mengorok, istri yang tertawa terlalu keras, satu tertutup yang lainnya terbuka; istri ingin rumah berhalaman suami lebih senang apartemen; istri ingin berlibur ke Eropa suami ingin berlibur ke hutan di Papua; juga akan menjadi ruang bagi konflik dalam rumah tangga. Dalam hal ini,  pengenalan yang baik akan sifat dan bawaan pasangan menjadi urgen untuk dipahami.

Umumnya orang yang akan menikah menampilkan sisi – sisi positifnya saja, sementara sisi yang buruk cenderung tidak tampak. Setelah perkawinan terjadi, biasanya sisi buruk pasangan mulai kelihatan. Jika sisi buruk ini demikian berat kadar keburukannya menurut pasangannya pastilah akan menimbulkan stress yang kadang jika sama sekali tak bisa diterima atau tak mampu ia rubah, akan menjadi faktor penekan jiwa yang cukup besar. Perbedaan – perbedaan inilah yang terkadang membuat perkawinan menjadi jauh dari kebahagiaan yang diidamkan dan berubah menjadi faktor stress yang berlangsung terus – menerus.

Dialami Semua Pasangan

Jika melihat pada statistic, depresi sebenarnya umum terjadi di seluruh dunia. Badan kesehatan dunia, WHO, memperkenalkan 121 juta orang kini menderita depresi. Dari jumlah itu, 5,8 % pria dan 9,5 % wanita mengalami siklus depresi yang terjadi terus – menerus pada tahun tertentu. Diperkirakan depresi akan menempati peringkat ke 2 dari penyebab utama kecacatan, setelah penyakit jantung pada tahun 2020, dimana wanita berpeluang lebih besar dua kali lipat terserang depresi dibanding laki – laki. Artinya, isteri lebih berpeluang menderita depresi dibandingkan dengan suami, sekalipun umumnya depresi yang dialami laki – laki juga diyakini tak kalah banyak karena mereka tak menyadari gejala – gejala depresi dalam dirinya.

Kondisi sedih dan berduka yang normal biasanya mempunyai efek yang tidak mendalam dan berlangsung lebih singkat dibandingkan dengan gangguan depresi. Inilah yang harus disadari oleh pasangan suami istri. Jika suami kehilangan buah hatinya karena meninggal dunia, tentu saja akan merasa sedih.

Tapi jika sedih itu mengarah kepada Anhedonia (ketidak mampuan mengalami/merasakan kegembiraan), tidak ada harapan, kehilangan kemampuan mengatakan perasaan (kemampuan merasa senang dalam merespon sesuatu yang positif), maka bisa dipastikan orang itu sudah mengalami depresi berat yang harus segera mendapatkan pertolongan.

Gejala depresi berat juga bisa dilihat jika seorang mengalami gangguan tidur, tidak nafsu makan, serta sulit berkonsentrasi. Sakit mag kronis juga sering dihubungkan dengan depresi karena penderita tak mau makan padahal asam lambung terus diproduksi, demikian juga dengan stroke, tekanan darah tinggi yang naik turun secara drastic juga sering disebut sebagai gejala depresi.

Kondisi yang lebih parah dari depresi adalah Skizofrenia. Menurut WHO, hamper 24 juta orang diseluruh dunia menderita gangguan skizofrenia dengan angka kejadian 7 per 1000 penduduk. Pria dan wanita diberitakan memiliki potensi yang sama dalam hal skizofrenia ini. Para penderita skizofrenia sangat rentan melakukan bunuh diri.

Menurut para ahli, sebagian besar penderita gangguan jiwa dalam rumah tangga, merasa dirinya sehat padahal jiwanya terganggu. Masalah berat yang ditanggung umumnya menjadi faktor penyebab gangguan tersebut.

Tekanan pada jiwa ini kemudian membuat penderiata tak lagi memiliki kemampuan memadai dalam menilai kenyataan. Inilah yang membuatnya menjadi sering berhalusinasi yang terus merongrong jiwanya.

Ini semua terjadi karena masalah yang menerpa dalam rumah tangga tak bisa diatasi  dan kemudian mengendap dalam diri selama bertahun – tahun. Ledakan dari endapan inilah yang muncul ke permukaan dalam bentuk penyimpangan – penyimpangan psikis dari seseorang. Sedangkan dilihat dari faktor keturunan, umumnya sangat kecil.

Jadi, karena masalah dalam rumah tangga pastilah akan senantiasa muncul, suami maupun istri seyogyanya bergandengan tangan mencari jalan terbaik dan solusi yang membahagiakan kedua pihak. Kalau itu tidak dilakukan, siap – siaplah menerima serangan stress terkuat yang lahir dari perkawinan.

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 04 / II / April 2009

~ by glesyer on July 16, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: