BILA PENDIDIKAN PASUTRI TERPAUT BERBEDA

Latar belakang pendidikan pasutri yang tak imbang sangat mungkin menimbulkan jarak (gap) antar pasutri. Perlu upaya saling mengisi ketidak seimbangan tersebut.

Tak dimungkinkan bila latar belakang pendidikan akan mendongkrak kualitas kepribadian seseorang. Sebab pendidikan merupakan pintu masuk bagi terbukanya cakrawala kehidupan. Bekal pendidikan pun akan mampu mengantarkan seseorang ke gerbang keberhasilan bagi masa depannya kelak.

Dalam konteks kehidupan rumahtangga yang penuh dinamika, pendidikan pun merupakan satu instrument yang tak bisa dipisahkan. Sejauh mana kematangan seseorang berumah tangga, umumnya bisa dilihat dari sejauh mana pula ia berhasil mengenyam pendidikannya. Ilmu yang diperoleh dari pendidikan seseorang, diakui ataupun tidak, kelak akan menemaninya dalam mengarungi kehidupan rumahtangganya.

Seseorang yang berhasil menggondol gelar sarjana, secara teori, praktik maupun itung – itungan logika, jauh lebih siap menjalani kehidupan rumahtangga dibanding anak lulusan SD. Maka atas pertimbangan inilah terkadang seseorang yang hendak memutuskan berumahtangga cukup memprioritaskan latarbelakang pendidikan calonya.

Dalam bahasa yang umum, hal demikian dikenal dengan istilah bibi, bobot, bebet. Latarbelakang pendidikan, keluarga maupun yang lainnya harus memiliki nilai lebih atau paling tidak setara antara si laki – laki maupun perempuan.

Islam pun pada prinsipnya tidak melarang hal demikian, sebab ada istilah kufu’ (setara) saat seseorang ingin mencari pasangan hidup. Pasangan hidup yang kelak akan mendampinginya boleh dinilai karena kecantikan/ketampanannya, keturunannya, kekayaannya, serta agamannya.

Namun demikian, berbeda dari ketentuan bibit, bobot, bebet yang harus setara dalam segala hal, aturan sekufu’ (setara) dalam Islam menghendaki faktor keagamaan lebih dikedepankan dari apapun. Pondasi agama dan iman yang kuat akan menjadi penuntunnya dalam menjalani kehidupan. Baik buruk, besar kecil, bermanfaat ataupun malah menimbulkan madharat, didasarkan atas ketentuan agama. Dengan begitu, rumahtangga yang dibinanya diharapkan tidak melenceng.

Keluarga lebih berdaya

Figur kepala rumahtangga ideal sangat identik dengan latar belakang pendidikan tinggi. Makin tinggi pendidikan seorang laki-laki, makin mudah ‘dilirik’ oleh para calon mertua dan anak gadis yang ingin dipersuntingnya. Apalagi bila gelar akademik berderet panjang bak pagar rumah.

Bukan hanya gengsi dan pamor yang akan naik, laki-laki berpendidikan tinggi pun diharapkan lebih bisa diandalkan menjadi kepala keluarga. Suami yang punya kapasitas ilmu agama yang tinggi misalnya, tak hanya diharapkan mampu mendidik keluarganya, namun dengan kecakapan yang dimiliki, ia pun sedianya mampu berpeluang membina masyarakatnya.

Suami bertitel dokter pun, misalnya, juga cukup sarat menaikkan derajat keluarga. Profesi yang manfaatnya dibutuhkan banyak orang itu cukup prestisius, sehingga begitu bangganya bila seorang perempuan bisa bersanding dengan suami bertitel dokter. Secara akademis maupun intelektual pun jelas, seorang dokter memiliki kapasitas mumpuni dibanding suami berpendidikan rendah, bahkan dari sarjana umum sekalipun.

Latarbelakang pendidikan juga disinyalir bisa mampu menggeser faktor lain seperti kemapanan dalam segi kekayaan maupun lingkungan keluarga terpandang. Bekal ilmu yang cukup lebih bisa mengantarkan seorang suami ke gerbang keberhasilan membina keluarganya, dibandingkan harta warisan melimpah atau keluarga besarnya yang kaya.

Uniknya, ada semacam kesepakatan umum di masyarakat bahwa bila suami berpendidikan tinggi, istri tidak mesti berpendidikan tinggi pula. Sebab ketentuan latarbelakang pendidikan tinggi sang suami seakan mutlak milik dirinya. Sebab itu, tak sedikit cerita pasutri yang pendidikan suaminya tamatan SMA, misalnya, hanya memperistri seorang istri yang tamatan SD. Termasuk seorang sarjana menikahi wanita lulusan SMP/SMA misalnya.

Toh beban tugas istri yang lebih banyak di rumah dianggap tidak mengharuskannya untuk berpendidikan tinggi. Mengurus rumah, anak dan suami, dinilai cukup bisa diperoleh dengan faktor kebiasaan yang diperoleh secara turun temurun.

Lagi pula, ada anggapan bahwa mengurus rumah, anak dan suami, merupakan kodrat perempuan. Sehingga bisa ataupun tidak, dewasa maupun remaja, perempuan menikah dianggap pasti bisa melaksanakan peran kerumahtanggaannya.

Kendati begitu, seiring berkembangnya zaman dimana tuntutan hidup sudah banyak berubah, pola kehidupan berumahtangga pun berubah. Seorang istri tak hanya dituntut mampu melakoni tugas domestiknya saja.

Dalam pola pengasuhan anak, ia dituntut mampu mendidik mereka dengan baik. Demikian pula ia pun harus mampu memainkan peran yang diharapkan bisa mengimbangi status atau latarbelakang pendidikan suaminya. Bila suaminya guru, setidaknya istri pun diharapkan punya wawasan yang bisa menunjang suaminya. Demikian seterusnya. Karena hal itulah, tak pelak criteria istri berpendidikan pun kini menjadi satu pertimbangan saat seorang laki – laki hendak menyunting calon istri.

Istri berpendidikan tinggi memiliki nilai lebih dalam menjalankan fungsinya sebagai ibu rumahtangga ketimbang istri berpendidikan rendah. Contoh terkecil bisa kita lihat dari segi pengolahan dan penyajian menu makanan keluarga. Mereka  dinilai lebih luwes, variatif, dan tahu mana makanan yang sehat untuk keluarganya.

Pengetahuan akan makanan dan pola hidup sehat tentu saja akan menunjang kesehatan keluarganya. Hebatnya lagi, perempuan seperti ini bahkan sanggup membuat perbaikan bagi para suami yang cenderung punya kelebihan berat badan dan malas berolahraga. Misalnya, tekanan darah dan kadar kolestrol mereka tetap lebih rendah, tidak banyak merokok oleh karena control yang kuat dari istrinya, anak – anak pun sehat karena asupan gizi seimbang yang diberikan oleh sang ibu.

Manfaat lain yang bisa diberikan istri berpendidikan tinggi adalah kualitasnya lebih menentramkan bagi suaminya. Dengan kecerdasan yang dimiliki, ia mampu beradaptasi dengan problematika yang dihadapi suami dan anak – anaknya diluar maupun di dalam rumah. Kecerdasan intelektual akan menuntun seorang ibu untuk terus meng-up date perkembangan zaman. Tak pelak, ibu yang cerdas akan lebih mudah memberdayakan keluarganya.

Pendidikan Istri Lebih Tinggi dari Suami

Sama – sama berpendidikan tinggi akan memungkinkan seseorang mudah menjalani rumahtangganya. Komunikasi, visi misi serta aturan main yang akan tercipta antar pasutri dengan latarbelakang pendidikan setara memudahkan mereka beradaptasi dalam membangun rumahtangga.

Atau, bila kesetaraan pendidikan antarpasutri tidak bisa dicapai namun suami lebih berpendidikan ketimbang istrinya, pandangan yang mengemuka nyaris tidak menimbulkan persoalan. Sebaliknya, bila latarbelakang pendidikan suami lebih rendah dari istrinya, persoalan yang muncul akan kompleks. Penolakan akan hal tersebut bahkan bisa saja terjadi. Keluarga besar yang tidak setuju, saudara mencibir, teman mengejek, serta tanggapan lain yang memojokkan keberadaan suami akan lebih sering bermunculan.

Kondisi demikian semakin rentan menimbulkan masalah bila financial sang istri pun lebih kuat dibandingkan suaminya. Syahdan. Jika tidak siap dengan keadaan seperti ini, mental suami lama kelamaan bisa jadi melemah. Sedang istri pun bisa juga berubah merasa superior.

Karena merasa dirinya lebih berdaya dari suaminya, maka istri pun tak pelak merasa lebih kuasa. Alih – alih rumahtangga yang sejatinya bisa berjalan harmonis, malah berantakan karena hubungan berubah menjadi tidak sehat.

Padahal sejatinya latarbelakang pendidikan pasangan adalah mutlak menjadi satu instrument dari sekian banyak instrument yang dapat mempermanis hubungan rumahtangga. Maka ketika satu instrument tersebut tidak terpenuhi, toh masih bisa didapat atau dicari dari instrument lain, seperti agama atau faktor lainnya.

Boleh jadi pendidikan suami lebih rendah dari istrinya, namun bila pengetahuan agamanya lebih mumpuni, rumahtangga tetap bisa dibangun dengan pondasi yang kokoh. Sebagai suami, ia tidak perlu khawatir tergeser kepemimpinannya dalam rumahtangga. Dengan bekal agama yang kuat, justru ia tetap bisa membimbing sang istri.

Dari sini pula terlihat jelas bahwa satu sama lain bisa memainkan peran dan fungsinya. Kelebihan si istri dalam hal talenta maupun intelektual misalnya, bisa memberikan kontribusi berguna bagi rumah tangganya. Demikian pula suami yang berwawasan luas di bidang keagamaan. Ia akan memberi warna dengan sentuhan keagamaan yang tidak dimiliki istrinya.

Menikahi suami berpendidikan rendah toh bukan sesuatu yang buruk, meski dinilai lebih rentan menimbulkan penolakan. Sepanjang suami mampu menjalankan kewajibannya dengan baik, rumah tangga tetap bisa dibangun dengan kokoh.

Namun yang lebih penting lagi, tinggi maupun rendah pendidikan pasutri, sejatinya harus tetap bisa membuka kran komunikasi selebar mungkin. Agar kekurangan dan kelebihan akibat terjadi gap antar pasangan bisa segera teratasi. Pada akhirnya problem ketimpangan itu tidak juga menjadi bagian yang mudah dikambinghitamkan.

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 04 / II / April 2009

~ by glesyer on July 16, 2010.

4 Responses to “BILA PENDIDIKAN PASUTRI TERPAUT BERBEDA”

  1. saya sedang menghadapi hal serupa bahasan artikel ini, calon suami saya tamatan SMA, sedang saya Sarjana, agak bingung jg antara melanjutkan hubungan atau tidak manakala keluarga kurang menerima hal ini,,,

  2. saya sudah menalaminya, pendidikan suami lebih rendah, dalam hal pemikiran kurang matang, dalam hal penghasilan otomatis jg lebih rendah… otomatis jg ga nyambung… dlam hal pergaulan dengan sekitar, rasa herannya dengan pengeluaran kita, dia selalu anggap saya boros padahal kebutuhan rumah, dan penghasilan saya 5x lipat dr dia, otomatis kebutuhan juga berbeda

  3. saya S2, berencana akan S3 dan suami lulusan SD. secara agama pun saya lebih mengetahui dari suami. kami menikah atas dasar suka sama suka sungguh berat cobaan pernikahan saya. mohon doa dari rekan-rekan sekalian😥

  4. pengalaman sama,karena sudah terlanjur,buat kita berlatih sabar,lbh kuat menjalani hidup , anggap kehidupan itu seni,di mana kita bisa menuangkan suatu hasil lbh baik dan menjaganya spy tetap terjaga dan mjd hal terbaik,keep spirit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: