BERSAHABAT UNTUK CINTA

Benarkah cinta tak lagi bertahan manakala usia kebersamaan semakin panjang ?


Setelah tumbuh menjadi manusia dewasa, seringkali kita tak lagi menemukan anak yang dulu begitu lucu dan mudah memicu rasa saying. Yang kini nampak di hadapan justru anak yang begitu sering menentang. Begitu pula dengan pasangan. Sesaat setelah akad nikah terucap yang muncul adalah perasaan bahagia yang diiringi cinta. Namun, kini setelah tahun demi tahun berjalan yang ada hanya rasa hampa ketika melihatnya.

Cinta memang hal yang membuat hidup akan terasa lebih indah dalam kehidupan. Namun, bagaimana bila cinta kian terasa menguap seiring dengan perjalanan waktu? Benarkah cinta memang benar – benar tak ada lagi, hingga anak yang dulu begitu dikasihi sekarang telah berubah menjadi monster yang begitu mengancam kehidupan kita?

Menerima kenyataan

Tentu saja cinta itu masih ada. Apalagi manusia diciptakan dengan lautan cinta yang begitu dalam di setiap sudut nuraninya. Hanya saja, kita kadang tak cukup memiliki cara untuk mengekspresikan rasa cinta yang kita miliki. Dengan demikian, rasa dan warna dari cinta yang kita miliki seakan tak pernah berganti kostum dan begitu membosankan.

Kita terkadang tak cukup berlapang dada untuk menerima perubahan yang terjadi pada orang – orang di sekeliling kita. Kita mungkin tak cukup siap untuk berganti gaya cinta manakala pasangan berganti kesibukan. Kita juga tak cukup siap menerima kenyataan bahwa bayi kecil yang dulu begitu menggemaskan, kini telah berubah menjadi sosok dewasa yang siap mengambil keputusan. Dia, si mungil yang dulu begitu bergantung pada bantuan kita, kini telah berubah menjadi manusia – manusia yang ingin diberi kebebasan menuju kemandiriannya.

Satu hal yang begitu jelas, kita belum siap melihat kenyataan yang berbeda dari apa yang kita inginkan. Kita masih ingin memandang dari apa yang selama ini terlukis dalam benak kita. Sehingga yang timbul adalah penentangan – penentangan, baik yang datang dari orang lain maupun diri kita sendiri. Sungguh, ini bukanlah hal yang menyenangkan dalam buah kebersamaan.

Bersama dan bersahabat

Kini, marilah sejenak menghentikan langkah. Mari bertanya pada hati kita masing – masing, bukankah apa yang kita lakukan selama ini atas nama cinta? Bukankah perasaan yang tidak mengenakkan dan konflik yang selama ini timbul pun karena kita menginginkan  dan konflik yang selama ini timbul pun karena kita menginginkan kebaikan untuk orang – orang yang kita cintai? Jadi,cinta kita, sejatinya, tak pernah berkurang bukan? Lalu, apa yang sebenarnya kurang dalam cara kita mencintai sehingga cinta itu tak terlihat lagi?

Kini, mari sejenak meninjau cara kita mencintai keluarga. Cinta kita mungkin selalu penuh tetapi kita lupa memperlakukan orang yang kita cintai sebagai sahabat. Kita pun lupa menggunakan kekuatan cinta guna mempersiapkan diri menjadi sahabat bagi mereka.

Padahal persahabatan sejatinya adalah sebuah penjamin keindahan kebersamaan. Bukankah Anda pernah memiliki seorang sahabat? Bersamanya pasti selalu ada cara untuk mengisi waktu yang berjalan dan tak pernah membosankan. Ya, seorang sahabat memang selalu ada untuk membuat waktu – waktu dalam kehidupan kita menjadi lebih baik.

Orang mengenal istilah cinta buta tetapi tak seorangpun diantara kita yang mengenal istilah persahabatan buta. Persahabatan senantiasa berjalan di atas rel yang rasional. Rel yang selalu lurus untuk mengantar kita pada perbuatan – perbuatan terbaik guna melanggengkan sebuah hubungan. Persahabatan selalu membuat seseorang memilih cara – cara terbaik yang akan membuat hidupnya dan hidup orang lain juga menjadi lebih menyenangkan. Dengan bersahabat, kita juga akan terlatih untuk saling memberi tak sekedar menuntut.

Persahabatan pula yang akan membuat kita mengerti bahwa ada yang berubah pada orang lain. Kasih sayang sebagai seorang sahabatlah yang akan mendorong kita untuk senantiasa meningkatkan kualitas kebersamaan, meski perubahan itu tetap ada. Karena seorang sahabat adalah pribadi yang tidak mengenal pamrih untuk membantu kita menemukan kebahagiaan.

Sedemikian pentingnya bersahabat dalam keluarga, sehingga Allah Yang Maha Penyayang bertitah, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak,” (An-nisa:19)

Allah swt, menyuruh agar setiap pasangan terutama suami memperlakukan pasangannya dengan baik. Bila di tengah perjalanan terlihat hal yang tidak menyenangkan hati, maka Ia menyuruh kita agar bersabar karena mungkin di samping hal yang tidak menyenangkan tersebut masih ada kebaikan – kebaikannya yang selama ini tak kita sadari. Bukankah ini adalah hal yang mendasar dalam persahabatan? Karena sahabat adalah orang yang menerima kita apa adanya seraya penuh kasih mendukung agar kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Lebih indah lagi, dalam surat An-Nisa ayat 19 di atas Allah swt.menggunakan redaksi “muasyarah bil ma’ruf”, makna kata “muasyarah” adalah bercampur dan bersahabat. Karena mendapat tambahan fase ”bil ma’ruf”, maknanya semakin dalam. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menulis makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan “perbaikila ucapan, perbuatan, penampilan sesuai dengan kemampuanmu sebagaimana kamu menginginkan dari mereka (pasanganmu), maka lakukanlah untuk mereka.”

muasyarah bil ma’ruf” ini begitu penting karena dengan melakukannya kita akan senantiasa memperbaiki perilaku kita terhadap keluarga, sebagaimana kita pun ingin mereka melakukan hal yang sama. Melakukannya juga berarti membuka sekat – sekat ke’aku’an yang selama ini mungkin memisahkan kita dengan keluarga.

Bila selama ini kita gagap terhadap perubahan yang terjadi pada orang – orang tercinta, mungkin itu adalah buah dari ke’aku’an dan cinta yang terlalu menuntut. Akibatnya, jangankan timbul rasa pengertian terhadap apa yang terpendam dalam hati mereka, untuk mendengar apa yang mereka katakana pun kita tak mampu. Padahal, sahabat adalah orang yang mampu mendengarkan apa yang bahkan tak terkatakan oleh lisan.

Menjadi sahabat

Nah, bila sungguh – sungguh mencintai maka sudah saatnya kita pun menyatakan kesiapan kita menjadi sahabat. Sahabat yang saling menghormati karena cinta sejati akan membawa konsekuensi untuk menghormati. Sebagaimana Allah sangat memuliakan hamba-Nya dengan berbagi karunia yang tak terbatas.

Lalu bagaimana dapat bersahabat dengan orang – orang yang kita cintai? Hal yang pertama kali kita harus akui, konsekuensi dalam mencintai adalah keharusan untuk menghormati. Shakespeare mengatakan bahwa kasih sayang adalah hormat. Tidak ada sebuah kebersamaan yang bisa disebut sebagai jalinan cinta, bila ia tak mampu dibuktikan dalam sebuah penghormatan.

Kadang, sebagai pasangan kita merasa bahwa pasangan hidup kita adalah pribadi yang kita inginkan sebagaimana yang terlukis dalam benak kita. Begitu juga dengan anak – anak. Kita ingin melihat mereka menjadi seperti apa yang kita harapkan bahkan memaksa mereka untuk melunasi cita – cita yang dulu tak sempat diraih. Hingga kita kehabisan waktu untuk melihat bahwa sesungguhnya mereka adalah manusia dengan pribadinya masing – masing. Kita lebih sibuk untuk memaksa mereka untuk bisa menjadi seperti yang kita inginkan. Kita abaikan impian mereka. Seolah – olah mereka adalah milik kita selamanya. Akhirnya kita tak mampu menghormati mereka sebagaimana seorang manusia yang memiliki harapan, mimpi, dan pribadi.

Bersama orang yang tak mau menghormati seperti ini tentu tak aka nada cinta yang abadi. Tak akan ada kasih sayang yang saling mendukung dan pengabdian yang tulus untuk bersama menggapai keridaan-Nya. Karena itu, sekarang adalah saatnya untuk menjadi sahabat bagi orang – orang yang kita cintai.

Mulailah untuk mencoba mengerti apa yang ada dalam benak orang yang kita cintai. Dukunglah keinginan-keinginan positif yang ada dalam hatinya. Jangan menganggap diri kita adalah sentral kebenaran karena Ali bin Abi Thalib ra, mendengarkan kebenaran bahkan dari seorang anak kecil sekalipun. Bersahabatlah untuk mendengarkan apa yang mereka rasakan karena dengan demikian, kita akan terlatih untuk peka terhadap apa yang mereka rasakan. Sekalipun tak terkatakan.

Belajarlah untuk senantiasa menjadi pribadi yang baru. Pribadi yang selalu siap berubah untuk menjadi lebih baik, bersama pasangan dan anak – anak yang kita cintai. Mempertahankan diri untuk menjadi apa yang kita anggap ‘sudah seharusnya’ hanya akan membuat jurang yang menganga antara kita dan keluarga.

Pastikanlah dengan kekuatan cinta yang Anda miliki, Anda akan selalu ada untuk mendukung mereka. Untuk sebuah mimpi yang paling ‘mustahil’ sekalipun karena dukungan seorang sahabat adalah energy terbesar untuk mewujudkan sebuah mimpi.

Kita pasti tidak akan menjadi pribadi yang selalu mendorong perbaikan dalam kehidupan kita, tentu akan terasa begitu berarti. Kehidupan seperti inilah pasti dicari dalam tujuan berumah tangga dan berkeluarga.

Akhirnya, memang tidak akan ada seorang manusia pribadi sempurna kecuali Kekasih-Nya. Namun, yakinlah dengan adanya sahabat-sahabat sejati yang berdiri di sekeliling kita, cinta yang sempurna akan kita bangun. Cinta yang tak lekang oleh waktu. Cinta yang selalu melengkapi tanpa diminta. Cinta yang senantiasa menjadi energy untuk mengabdi pada titah-Nya.

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 09 / II / Oktober 2009

~ by glesyer on July 16, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: