Seberapa Penting Berdoa Sebelum Bercinta?

Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa berdoa dalam melakukan aktivitas apapun, termasuk urusan bercinta di atas ranjang.


Doa adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya. Doa merupakan aktivitas ibadah yang paling agung. Iman Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits yang berasal dari Anas, “Doa adalah otaknya ibadah.” Karena itu, agar setiap tindakan kita bernilai ibadah, maka awali segala aktivitas kita dengan berdoa. Nabi juga menegaskan,”Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di hadapan Allah, selain daripada doa.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Tak terkecuali dalam urusan di atas ranjang. Dalam hal ini pun, Nabi menganjurkan agar kita senantiasa memulainya dengan memanjatkan doa kepada Allah. Sebab, pada aktivitas ini, setan akan senantiasa menggoda orang yang melakukannya, baik suami maupun isteri.

Dalam Kitab ‘Uqudul Luzain’, Syekh Muhammad bin Umar Nawawi, atau yang popular dikenal dengan sebutan Syekh Nawawi al-Bantany, menjelaskan bahwa aktivitas bercinta antara suami dan isteri hendaknya dimulai dengan berdoa terlebih dahulu. Tujuan dari doa tersebut adalah untuk meminta kepada Allah agar anak yang dihasilkan dari hubungan tersebut tidak tergoda oleh tipu daya setan bila ia kelak terlahir di dunia ini.

Doa yang dibaca berupa: “Allahumma jannibnii as-syaithana wa jannibi as-syaithaana maa rozaqnaa [ Ya Allah, jauhkan kami dari syetan dan jauhkan syetan dari apa yang engkau berikan sebagai rizqi kepada kami].”

Doa ini, kata Syekh Nawawi, bersumber dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Kata Nabi, “Bila seseorang diantara kamu ingin menyetubuhi isterinya lalu dia membaca : “Allahumma jannibnii as-syaithana wa jannibi as-syaithaana maa rozaqnaa”. Seandainya Allah memberikan anak kepadamu, maka setan tidak bisa mencelakainya kelak. (HR. Bukhari dan Muslim)

Di samping bernilai spiritual tinggi, berdoa juga memberi banyak manfaat kepada orang yang mengerjakannya. Hal ini telah dijanjikan oleh Nabi dalam sebuah haditsnya.

“Sesungguhnya doa itu dapat member manfaat (bagi pelakunya) untuk sesuatu yang telah terjadi. Maka, wahai hamba Allah, lakukanlah doa itu.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar)

Lalu, terkait soal berdoa sebelum bercinta, adakah manfaat di sisi yang lain? Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan dr. Boyke Dian Nugraha, pakar seksologi, mencoba menelaah hal ini secara psikologis.

Menurut dia, berdoa merupakan salah satu dari upaya untuk menenangkan kejiwaan seseorang. Dalam berhubungan intim, ketenangan jiwa sangat menentukan kualitas percintaan. Jika seseorang tidak dalam keadaan tenang dan nyaman, maka kualitas percintaan terasa rendah. Bisa jadi, salah satu pasangan tidak menikmatinya.

“Ketenangan jiwa dan pikiran akan berdampak pada kualitas hubungan intim pasangan suami isteri,” katanya. Bahkan,katanya, lebih baik lagi jika berwudlu, kemudian dilanjutkan dengan shalat sunah. Ini akan membawa kualitas percintaan yang sangat baik sekali. Sebab, secara psikologis, seseorang sudah merasa mantap untuk melakukan hubungan intim.

Menurut Fauzil Adhim, penulis buku-buku pernikahan, shalat sunah dua rakaat bisa menjalin perasaan (al-‘athifah) kasih sayang dengan pasangan dan menjauhkan mereka dari perasaan benci. Shalat sunah, yang cukup dilakukan dua rakaat saja, akan memberi efek yang positif terhadap hubungan kasih sayang antara suami isteri.

Doa ini, jelas Syekh Nawawi, dimaksudkan agar hubungan intim menghasilkan seorang anak, yang tidak saja baik dari segi akhlak, tapi juga memiliki fisik dan mental yang sehat dan sempurna.

Namun begitu, menurut pandangan sebagian ulama, jika seseorang tidak sempat untuk melakukan shalat sunah, minimal ia berwudlu dulu.

Tujuannya, lagi-lagi,adalah agar pasutri bisa memperoleh anak keturunan yang saleh dan salehah. Sebab, melakukan sesuatu dalam keadaan bersuci bisa berakibat kebaikan di kemudian hari.

Hal ini juga ditegaskan Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulum ad-Din. Menurut dia, berwudhu bisa menjadi terapi psikologi atau ketenangan jiwa. Artinya, jika aktivitas berwudhu dihubungkan dengan aktivitas percintaan, maka itu sama artinya dapat memberi ketenangan kejiwaan.

Yang, lagi-lagi, kalau merujuk pada pandangan dr.Boyke, berwudhu bisa memberi ketenangan jiwa, dan ketenangan jiwa bisa membawa pada percintaan yang lebih berkalitas.

Mengharap Anak Saleh

Sebelum membaca doa, kata Syekh Nawawi, terlebih dulu seorang suami maupun istri hendaknya membaca basmalah. Kemudian dilanjutkan dengan membaca Surat al-Ikhlash. Membaca basmalah juga sangat penting.

Sebab, basmalah merupakan ungkapan dan pengharapan keberkahan dari Allah swt. Surat al-Ikhlas juga banyak keutamaan. Sebuah hadits menjelaskan bahwa membaca surat ini bernilai seperti membaca sepertiga isi al-Quran.

Syekh Kanun al-Idrisi al-Hasani, dalam Kitab Qurratul ‘Uyun, juga menyatakan hal serupa. Menurut dia, membaca basmalah sangat penting dalam setiap aktivitas, terlebih jika aktivitas itu bernilai ibadah. Bercinta, atau berjima’, juga ibadah. Seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah ketika kami bersetubuh dengan isteri akan mendapat pahala?” Rasulullah menjawab,”Ya”.

Syekh Nawawi juga menyarankan agar sebelum bersetubuh membaca kalimat takbir, yaitu Allahu Akbar. Di samping membaca doa seperti yang diajarkan Nabi di atas, kemudian lanjutkan dengan doa ini: ”Bismillahi al-‘aliyyi al-‘adhimi allahumma ij’ali an-nuthfata dzurriyatan thayyibatan. [Dengan menyebut nama Allah yang Mahatinggi dan Agung, Ya Allah, jadikanlah air sperma ini keturunan (anak-anak) yang baik.]”

Doa ini, jelas Syekh Nawawi, dimaksudkan agar hubungan intim menghasilkan seorang anak, yang tidak saja baik dari segi akhlak, tapi juga memiliki fisik dan mental yang sehat dan sempurna. Selama bersetubuh, suami dan isteri juga dibolehkan membaca zikir. Namun, zikir yang dibaca hendaknya dibaca dalam hati saja. Tak boleh dilafalkan dalam ucapan.

[Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan air menjadi manusia serta menjadikannya keturunan dan berkerabat dan Tuhanmu Mahakuasa]

Al-Gazali pernah berkata, ”Dalam suasana ini (akan bersetubuh) hendaknya didahului dengan kata-kata manis, bermesra-mesraan dan sebagainya; dan menutup diri mereka dengan selimut, jangan telanjang menyerupai binatang. Sang suami harus memelihara suasana dan menyesuaikan diri, sehingga kedua pasangan sama – sama dapat menikmati dan merasa puas.”

Kemudian Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zaadul Ma’aad Fie Haadii Khairul ‘Ibaad juga pernah menyarankan agar sebaiknya sebelum bersetubuh diajak bersenda gurau dan saling berciuman sebagaimana Rasulullah lakukan kepada istrinya. Jangan sampai bercinta tidak diawali dengan cumbuan dan kemesraan.

Kemudian, bila ‘hajat’ bercinta selesai, maka akhiri dengan berdoa pula. Syekh Nawawi menyarankan agar kita membaca doa setelah melakukan hubungan intim. Doa ini dibaca dalam hati dan boleh sedikit menggerakkan bibir. Isi doanya sebagai berikut: “Alhamdulillahi al-ladzi khalaqa min al-maai basyaran faja’alahu nasaban washohran wa kaana rabbuka qadiiran. [Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan air menjadi manusia serta menjadikannya keturunan dan berkerabat dan Tuhanmu Mahakuasa]”

Nah, di samping mengharapkan keberkahan, berdoa sebelum bercinta juga akan membawa kebaikan. Ia membawa kenyamanan dan ketenangan saat bercinta. Selanjutnya, keharmonisan hanya bisa dicapai dengan kondisi nyaman. Sementara itu, kenyamanan bisa dicapai dengan berdoa. Dengan begitu, bercinta akan terasa indah dan berkualitas.

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 09 / II / Oktober 2009

~ by glesyer on July 13, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: