Internet Berbahaya bagi Keharmonisan Keluarga ?

Kehadiran internet nyatanya berbahaya bagi keharmonisan keluarga. Karena itu waspadalah. Jangan terlena

internet

Namanya sudah ketagihan internet

Produktifitas kepepet

Jam kerja malah chatting ym

Ngobrol online sama ehehem

Atasan lewat langsung klik data

Pura – pura kerja di depan mata

Siang malam ku selalu

Menatap layar terpaku

Untuk online online

Online online

Syair lagu berjudul “Online” dari Saykoji ini menjadi salah satu lagu yang paling digemari minggu – minggu ini. Musiknya rancak dan syairnya familiar, terutama bait “online, online. Online online”. Anak kecil pun asyik menyanyikannya.

Tetapi jika dilihat lebih teliti syair lagu ini, sebenarnya mendedahkan fakta yang tak terbantah terjadi di kota – kota besar, khususnya Jakarta. Ia menegaskan bahwa internet telah menjadi candu yang memabukkan banyak orang.

Saat ini hamper semua kantor telah dipasangi jaringan internet. Di luar itu warnet juga tersebar di mana – mana. Bermacam provider memberikan berbagai kemudahan bagi siapapun yang ingin memasang jaringan internet di rumahnya. Bahkan semua penyedia saluran telepon baik GSM maupun CDMA memberikan kemudahan yang sama sehingga siapapun yang memiliki HP dapat mengakses internet asal HPnya memiliki layanannya. Dengan keadaan ini, bisa dibayangkan sedekat apa internet mengepung kehidupan warga kota.

Nah, di Amerika kondisi seperti ini beberapa waktu lalu diteliti dan hasilnya sungguh mengejutkan. Ternyata internet membahayakan bagi keharmonisan keluarga. Sebab makin sedikit waktu bagi keluarga untuk berbincang secara tatap muka. Internet telah menyita banyak waktu seseorang. Waktu kebersamaan dinilai semakin sedikit lantaran banyak anggota keluarga yang lebih memilih untuk berinternet ria.

Michael Gilbert, peneliti senior Center for the Digital Future dari University of Annenberg School for Communication Amerika berdasarkan hasil penelitian lembaganya mengatakan bahwa internet membuat waktu bagi anggota keluarga bercengkerama secara face to face semakin terkikis.

Sebab, setelah seharian dijejali oleh kesibukan kantor dan berbagai aktivitas lainnya, setelah pulang ke rumah pun hal yang mereka lakukan adalah eksis di dunia maya. Yakni, dengan lebih sering menghabiskan waktu di depan layar computer.

Center for the Digital Future telah melakukan survey kepada sekitar 2.000 keluarga di AS. Ketika tahun 2005, hasil survey menyimpulkan bahwa rata – rata setiap keluarga menghabiskan waktu kebersamaan mereka adalah sekitar 26 jam sebulan. Namun, waktu kebersamaan keluarga tersebut pada 2008 langsung turun drastic menjadi hanya 18 jam per bulan.

“Situs jaringan social seperti Twitter dan Facebook meledak pada 2007. Pada saat itu, lebih dari setengah orang yang online mengatakan bahwa komunitas online seperti ini sangat penting bagi kehidupan offline mereka,”terang Gilbert.

Di Indonesia sendiri, Anda bisa melihat ke sekeliling Anda. Perhatikan pasangan Anda, saudara Anda, atau teman Anda terutama yang memiliki layanan internet di rumah atau melalui HP, apakah setelah pulang kantor masih terlena internet di rumah? Jika benar berarti ia memang sudah kecanduan, sebagai mana yang dikatakan Saykoji dalam lagunya “ Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online, online”.

“Internet lebih menonjolkan layanan perorangan dan membuat ketergantungan. Faktor utama ‘keberhasilan’ internet adalah interaktif. Anda hanya tinggal duduk dan memberikan respon,” kata Gilbert lebih lanjut. Kemudahan akses dan asyiknya pengoperasiannya yang membuat orang semakin terlena.

Sisi Positif Internet

Dalam survey sebelumnya yang dilakukan Pew Internet dan American Life Project tidak memperlihatkan efek buruk internet dan teknologi mutakhir lain, tetapi segi positif kehadiran temuan itu bagi keluarga. Internet hadir bukan sebagai pemecah keharmonisan keluarga tetapi sebaliknya pemersatu mereka.

Survey yang mengikutsertakan 2.252 responden dewasa itu memperlihatkan, secara umum keluarga inti Amerika memiliki ponsel, menggunakan internet, dan memiliki computer di rumah. Yang disebut keluarga inti di sini adalah keluarga yang terdiri dari pasangan menikah dengan beberapa anak kecil. Apa yang diamati pada keluarga inti tersebut dibandingkan dengan apa yang ada pada orang dewasa yang hidup membujang, rumah yang dihuni anggota – anggota yang tidak mempunyai hubungan keluarga, atau pasangan tanpa anak.

Survey menyebutkan, 66% rumah tangga (RT) pasangan menikah dengan anak – anak punya koneksi internet berkecepatan tinggi di rumah. Ini jauh di atas rata – rata RT nasional yang angkanya hanya 52%. Ditemukan pula bahwa dalam 65% RT menikah dengan beberapa anak, kedua orang tua dan sedikitnya satu anak berinternet. Survey juga menambahkan, anggota – anggota keluarga sering mengontak saudara dengan ponsel mereka menggunakan ponsel untuk mengoordinasikan kehidupan keluarga saat masing – masing sibuk di luar rumah.

Survey menemukan, 42% orang tua mengontak anak-anaknya setiap hari dengan menggunakan ponsel. Hal ini membuat ponsel menjadi alat komunikasi paling popular di antara orang tua dan anak. Selain komunikasi dengan ponsel, berinternet ternyata juga sering menjadi salah satu aktifitas social. Sebanyak 50% pengguna internet yang hidup bersama pasangan dan satu/lebih anak, sambung ke internet beberapa kali seminggu.

“Keluarga-keluarga kini semakin menjadi jaringan,”kata Barry Wellman, juga dari University Toronto yang ikut menulis laporan itu. Ia menambahkan, bahwa masing – masing anggota keluarga bisa menjadi hub (simpul) komunikasi, dan itu mengubah banyak hal baik di dalam maupun di luar rumah.

Selain hasil penelitian ini, ada juga penelitian lain yang memberi keterangan mengenai manfaat internet. Dalam laporan yang dimuat American Journal of Geriatric Psychiatry menyebutkan bahwa aktivitas menjelajah internet ternyata dapat memberi dampak positif bagi fungsi dan kemampuan otak, demikian hasil sebuah penelitian terbaru yang dimuat, terutama bagi seseorang usia pertengahan hingga lanjut.

Laporan yang dikemukakan para ahli dari University of California Los Angeles menemukan bahwa kegiatan surfing internet dapat menstimulasi pusat otak yang mengendalikan pembuatan keputusan dan pertimbangan kompleks. Peneliti menyatakan, aktivitas menggunakan internet mungkin dapat membantu mencegah perubahan psikologis berkaitan dengan pertambahan usia yang kerap menyebabkan penurunan fungsi otak.

Ketika seseorang bertambah tua, diyakini terjadi sejumlah perubahan nyata pada otak, termasuk penciutan dan pengurangan aktivitas sel yang dapat mempengaruhi kemampuan dan fungsi otak. Sudah lama diduga bahwa aktivitas yang membuat otak tetap aktif seperti bermain puzzle atau membaca dapat meminimalsir dampak penuaan otak dan riset terbaru telah mengidikasikan bahwa aktifitas surfing internet dapat menjadi salah satu alternative.

“Hasil penelitian ini menganjurkan bahwa perkembangan teknologi computer dapat member efek psikologis dan potensi manfaat terhadap kalangan usia menengah dan lansia. Berinteraksi dapat melibatkan aktivitas otak yang rumit, yang dapat membantu melatih dan memperbaiki fungsi otak”,ujar pimpinan riset Professor Gary Small seperti dikutip BBC.

Oleh karena itu, yang harus dicamkan bagi kita semua adalah bahwa teknologi hanyalah sekedar alat. Unsur yang lebih mendasar adalah saling pengertian di antara keluarga itu sendiri, yang setiap saat harus dipupuk melalui komunikasi , secara tradisional ataupun dengan memanfaatkan sarana teknologi


Small melakukan risetnya dengan melibatkan 24 sukarelawan berusia antara 55 hingga 76 tahun. Setengah dari mereka merupakan pengguna aktif internet sedangkan sisanya tidak. Setiap partisipasi menjalani scan otak saat melakukan surfing internet dan juga ketika diberi tugas membaca buku. Kedua jenis aktivitas ini ternyata menunjukkan bukti signifikan akan adanya aktivitas pada wilayah otak yang mengendalikan bahasa, membaca, daya ingat dan kemampuan visual.

Namun begitu, berinternet ria menghasilkan aktivitas tambahan yang signifikan pada daerah yang terpisah pada otak yang mengendalikan pembuatan keputusan serta pertimbangan kompleks. Dibandingkan aktivitas membaca sederhana, menggunakan internet membutuhkan pilihan yang membuat orang harus membuat keputusan akan apa yang harus di-klik dalam upaya mendapatkan informasi yang diinginkan.

Teknologi Sekedar Alat

Dari berbagai hasil penelitian ini menunjukkan bahwa segala sesuatu memang memiliki sisi baik dan buruk. Sisi internet jika digunakan secara berlebihan memang menimbulkan sindroma kehilangan perhatian (attention deficiency syndrome/ADS), yang wujudnya berupa individu yang tidak acuh dengan lingkungan sekitar, termasuk ketika ada anggota keluarga atau teman di dekatnya.

Jika ini yang mengemuka, jelas kehadiran internet dan teknologi lain akan membuat masing – masing orang terasing dan terpagari untuk melakukan sosialisasi. Ia akan teralienasi dengan kehidupan dunia maya yang menghanyutkan.

Sebaliknya, internet juga nyatanya dapat menciptakan relasi baru yang unik dan imajiner. Seseorang dapat menyapa dengan pasanganya di dunia maya. Jika kehidupan dunia offline ditranfer ke dunia online, maka akan terjadi keharmonisan baru yang mencengangkan. Kita memperlakukan pasangan, teman, dan saudara dengan perlakuan yang serupa saat di dunia nyata. Andai ini yang terjadi maka keharmonisan dan hubungan yang baik akan tetap terjalin.

Oleh karena itu, yang harus dicamkan bagi kita semua adalah bahwa teknologi hanyalah sekedar alat. Unsur yang lebih mendasar adalah saling pengertian di antara keluarga itu sendiri, yang setiap saat harus dipupuk melalui komunikasi , secara tradisional ataupun dengan memanfaatkan sarana teknologi.

Jika seseorang menggunakan teknologi untuk keharmonisan keluarga, jelas itu sangat mudah. Ini akan mengarah pada perkembangannya “keluarga teknologi”. Namun jika kemudian membuat efek negative, maka layak dipertimbangkan. Semua itu kembali bagaimana kita memperlakukannya.

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 09 / II / Oktober 2009

~ by glesyer on July 13, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: