Hukum Nikah di Depan Jenazah

Tak ingin tertunda dan demi menuntaskan keinginan almarhum, seringkali akad nikah dipercepat digelar di depan jenazah orangtua yang meninggal sebelum hari H perkawinan anaknya tiba.

Resia Tri Kresnawati, 25 tahun, putrid Mbah Surip, pingsan saat melakukan penghormatan terakhir pada sang ayah usai melakukan akad nikah [Tempo Interaktif,4/8/09]. Resia menikah dengan Samsuri, 27 tahun, di depan jenazah ayahnya. Padahal menurut rencana, pernikahan itu sendiri baru akan digelar 16/8/09. Namun menurut adat Jawa, perhelatan semacam itu harus menunggu setahun lagi bisa digelar setelah kepergian almarhum. Karena alasan itulah keluarga tak mau menundanya dan memutuskan untuk mempercepat proses akad sebelum jenazah Mbah Surip dikebumikan.

Perhelatan akad nikah di depan jenazah sang ayah ini tak hanya dilakoni putrid mendiang Mbah Surip. Dalam banyak kesempatan, prosesi akad nikah di depan jenazah kerap terjadi di tengah – tengah masyarakat. Utamanya orang Jawa yang masih memegang adat – istiadat dengan kuat.

Menurut aturan adat, jika ada salah seorang anggota keluarga yang meninggal dunia, pihak keluarga tidak diperbolehkan menyelenggarakan perhelatan/pesta apapun hingga lewat masa setahun masa kematian almarhum.

Tradisi ini, tak dimungkiri memberatkan mereka yang sudah menentukan waktu pernikahan. Apa pasal? Hanya karena alasan berkabung, pernikahan harus ditunda dalam rentang waktu yang lumayan lama. Alasan itulah yang membuat mereka membuat keputusan amat tergesa – gesa. Demi menghindari aturan menunggu waktu setahun yang cukup lama, proses pernikahan pun harus segera digelar saat itu juga walau di hadapan mayit sekalipun.

Namun yang jadi soal, apakah hal demikian tidak bertentangan dengan aturan dan nilai – nilai Islam?

Segera Menguburkan

Kewajiban menguburkan jenazah merupakan perintah utama agama yang harus dilaksanakan sanak keluarga yang ditinggalkan. Semakin cepat proses pemakaman, semakin baik untuk si mayit maupun para ahli warisnya. Karena itu, bila proses pernikahan digelar di hadapan jenazah, prosesi penguburan pun otomatis tertunda. Sebab mayit harus dihadirkan selama akad nikah dilangsungkan.

Dalam sebuah riwayat, kepada Ali ra., Rasulullah saw. Bersabda,”Tiga perkara wahai Ali, tidak boleh dipertangguhkan, yaitu shalat bila dating waktunya, jenazah bila telah terang matinya, dan wanita tidak bersuami bila telah menemukan jodohnya.” (HR Ahmad dan yang sepadan artinya dengan hadits itu diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim, Ibnu Hibban)

Dalam sebuah hadits lain yang diriwatkan Abu Hurairah dengan status marfu’ dikatakan, “Percepatlah pengurusan jenazah…” Sedang redaksi lain menyebutkan pula, “Jika sala seorang diantara kalian meninggal dunia, maka janganlah kalian menahannya dan percepatlah kalian untuk membawanya ke kuburannya. Dan hendaklah dibacakan pembukaan surat Al Baqarah di dekat kepalanya dan penutup surat tersebut (al Baqarah) di sisi kedua kakinya.”

Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Ahkamul Jana’iz menyebutkan bahwa kata percepat dalam kedua redaksi hadits tersebut terdapat silang pendapat. Ada ulama yang memaksudkan percepat dalam urusan yang berkaitan dengan si mayit, seperti persiapan memandikan, kafani, dan seterusnya, serta menuntaskan urusan utang – piutang atau wasiat si mayit. Ada pula yang memaknai dengan percepat penguburan/pemakaman.

Namun demikian, kesimpulan dari redaksi hadits ihwal di atas adalah semangat untuk mendahulukan segala urusan yang berkaitan dengan si mayit. Karena itu, jika akad nikah harus digelar sedang jenazah belum dikubur, konsentrasi ahli waris akan terpusat sementara pada akad nikah.

Lihat Mafsadat-Madharat

Wasiat atau apapun bentuk keinginan almarhum sejatinya memang harus dilaksanakan oleh para ahli waris yang masih hidup. Bukan hanya berlandas pada semangat adat yang sudah sedemikian berakar. Namun perintah agama pun menekankan demikian. Sebab esensi wasiat adalah amanah. Sedang amanah harus ditunaikan.

Namun dalam konteks pernikahan di depan jenazah, di mana semasa hidup almarhum berkeinginan untuk menyaksikan anak-keturunannya menikah, patut ditelisik ulang. Apa pasal? Keinginan melihat, menyaksikan, jelas harus dilakukan dalam konteks si almarhum bisa melihat dan menyaksikan prosesi pernikahan secara kasat mata. Pendek kata, ia harus dalam keadaan hidup. Bila yang terjadi sebaliknya, dimana ruh tak lagi bersatu dengan jasad, mata tentu tak lagi bisa melihat sesuatu yang hidup. Kalau keinginan sang ayah atau ibu adalah ingin melihat pernikahan anaknya namun sudah lebih dulu meninggal, tentu tidak bisa dilaksanakan.

Adapun dalil yang mengatakan bahwa arwah seseorang yang sudah meninggal masih bisa melihat dan mendengar suara orang yang masih hidup, memang ada benarnya. Abu-Thalhah al Anshari salah seorang sahabat yang mengisahkannya. Namun, hal tersebut tidak ada kaitannya dengan jenazahnya. Rasulullah dulu pernah diriwayatkan berbicara (memanggil) dengan penghuni kubur, lalu para sahabatnya bertanya, apakah orang mati bisa mendengar. Rasul membenarkannya. Bahkan semua makhluk di dunia ini mendengarnya, kecuali manusia. Tapi riwayat ini sama sekali tidak menyebutkan Rasulullah berbicara dengan mayat sebelum dikubur, melainkan dengan ruh orang yang jasadnya sudah dikuburkan.

Walhasil, bila merujuk pada hal tersebut, tentu pernikahan tidak harus dilakukan di depan jenazah, tetapi bisa kapan saja dan di mana saja. Namun ruh tidak bisa menjelma di alam nyata.

Menurut Ahmad Sarwat, Lc., pengasuh rubrik konsultasi dalam sebuah situs Islam, secara social dan semangat pernikahan, melakukan prosesi akad nikah di depan jenazah justru tidak layak. Sebab Rasulullah selalu memposisikan pernikahan itu dengan kebahagiaan. Bahkan sampai ia memerintahkan agar dihidangkan makanan pertanda berlangsungnya walimatul’ursy, hingga diperbolehkannya nyanyian dengan alat pukul. Semua itu memberi isyarat bahwa pernikahan itu adalah kegembiraan, bukan kesedihan.

Sementara faktanya, sejumlah akad nikah yang digelar di depan jenazah menambah kesedihan bagi kedua mempelai. Utamanya anak almarhum. Alih-alih saat-saat demikian mempelai mencecap kebahagiaan justru aroma duka dan nestapalah yang makin menggelayutinya. Bahkan tak jarang dari keduanya sempat tak sadarkan diri lantaran tak kuat menanggung sedih melihat almarhum.

Status ‘Kehadiran’ Jenazah

Tak ingin menunggu waktu setahun dan ingin menuntaskan keinginan almarhum melihat anaknya menikah adalah dua pesan yang tersirat dari prosesi akad nikah di depan jenazah. Namun, adakah maksud lain di balik keberadaan jenazah tersebut? Apakah jenazah ‘berfungsi’ sebagai sosok yang seakan hadir untuk melihat? Ataukah status jenazah sebagai wali bagi anaknya yang menikah?

Bila merujuk pada syarat dan rukun nikah yang terpenuhi, tentulah pernikahan itu sah. Sepanjang ada kedua mempelai, wali, saksi serta ijab-qobul. Yang jadi soal, apakah jenazah itu masuk dalam syarat dan rukun nikah? Misalnya, karena yang meninggal adalah ayah si mempelai, maka ia dihadirkan dalam kesempatan itu sebagai wali. Tentu hal ini sangat menyalahi aturan dan mustahil dilakukan. Mengingat dalam prosesi ijab-qobul, dimana mempelai laki-laki harus berinteraksi dengan wali secara lisan.

Sebab Rasulullah selalu memposisikan pernikahan itu dengan kebahagiaan. Bahkan sampai ia memerintahkan agar dihidangkan makanan pertanda berlangsungnya walimatul’ursy, hingga diperbolehkannya nyanyian dengan alat pukul. Semua itu memberi isyarat bahwa pernikahan itu adalah kegembiraan, bukan kesedihan.

Adapun wali, jika seorang bapak berhalangan mewalikan anaknya, tentulah bisa diwakilkan oleh nasab atau sanak keluarnya yang lain. Seperti olah kakak laki – laki, adik laki – laki, paman, uwak dan seterusnya menurut urutan hak wali. Karena dalam tuntunan Islam, jika yang menjadi wali meninggal, maka hak wali itu akan beralih ke yang berikutnya. Jika dalam hal ini si bapak (kandung sudah meninggal), maka kakek atau saudara laki – lakinya, bisa menggantikan posisi si bapak tersebut.

Namun bila jenazah hanya dimaksudkan untuk sekedar disandingkan dengan anaknya yang menikah, memang tidak masalah. Pernikahan yang dilangsungkan tetap sah, sepanjang terpenuhi rukun dan syarat nikah. Hanya saja kembali pada pokok persoalan, sejauh mana kehadiran jenazah membawa manfaat. Belum lagi bila dikembalikan pada aturan agama yang memerintahkan kepada ahli waris untuk segera menguburkan jenazah.

Mamah Dedeh, daiyah kondang yang berdomisili di Depok, menyatakan menolak keras prosesi akad nikah semacam ini dilaksanakan. Ia mempertanyakan maksud dan tujuan serta manfaat kehadiran jenazah dalam prosesi akad nikah model demikian. Karena, adat-istiadat dari manapun, jika bertentangan dengan aturan agama, harus ditolak.

Lanjut Mamah, kalaulah ada kaidah syar’I yang menyatakan al-‘Adat Muhakkamah (adat/tradisi di suatu masyarakat yang biasa dilakoni secara turun temurun bisa dijadikan hokum) sebenarnya tidak sesuai dalam konteks persoalan ini. Tradisi atau adat boleh dilanggengkan sepanjang tidak bertentangan dengan agama.

Lagi pula, detik – detik pernikahan adalah momen memetik kebahagiaan. Sedang kematian sebaliknya, selalu menyisakan kepedihan dan duka lara. Dua sisi yang bertentangan ini mustahil bisa bersatu. Maka tak heran bila gejala umum yang mewabah, dialami pengantin yang menikah di depan jenazah almarhum orangtuanya adalah pingsan berkali-kali, raungan isak tangis saat ijab-qobul, serta ratapan duka para kerabat.

Syahdan. Kebahagiaan dan kesedihan memang tak akan pernah bisa bersatu. Maka ada baiknya untuk menjadi bahan renungan dan pertimbangan.

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 09 / II / Oktober 2009

~ by glesyer on July 13, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: