PERDEBATAN TALAK TIGA SEKALIGUS

Pada zaman jahiliah tidak ada ketentuan talak dan rujuk dalam masa iddah baik batas maupun hitungan (jumlah)nya. Karena itu, suami sering mempermainkan istri – istrinya dengan talak dan rujuk sekehendak hatinya. Kemudian datang Islam membawa aturan – aturan yang terperinci dan membatasi talak dua kali. Apabila talak kedua itu telah terlewati dan sampai pada talak ketiga, diharamkan bagi suami untuk merujunya sebelum bekas istrinya itu dinikahi oleh laki – laki lain (kemudian menceraikannya).

Namun, persoalan kemudian muncul saat sang suami mengatakan talak tiga sekaligus: apakah ini berlaku satu kali talak atau tiga kali talak? Di sinilah ulama berbeda pendapat soal yang sering muncul ini.

Sebenarnya, awalnya (pada zaman Nabi saw dan Abu Bakar), talak tiga sekaligus dianggap sekali talak. Namun, pada zaman Umar bin Khathab, hukum tersebut diperbaharui. Umar melihat bahwa banyak di kalangan sahabat yang mempermainkan kata – kata talak, sehingga beliau memutuskan talak tiga sekali ucapan, dianggap tiga kali talak. Ketika itu istri tidak boleh kembali lagi ke suaminya (ba’in) sebelum menikah lagi dengan laki – laki lain (muhallik-red) dan menceraikannya.

Menurut Ibn Rusdy, “Mayoritas fukaha berpendapat bahwa talak dengan mengucapkan kata tiga hukumnya sama dengan talak tiga. Sedangkan ahlu zahir (mazhab Zahiriyah) dan jamaah mengatakan bahwa hukumnya sama dengan hukum talak satu dan ucapan kata tiga itu tidak memiliki konsekuensi apapun.”

Asy-Syeikh ath-Thusi berkata, “Jika seorang laki – laki menceraikan istrinya dengan talak tiga dengan satu lafadz, hal itu merupakan bi’ah dan jatuh talak satu apabila terpenuhi syarat – syaratnya. Demikian menurut sahabat – sahabat kami. Tetapi di antara mereka ada yang berpendapat bahwa itu sama sekali tidak menimbulkan konsekuensi apapun. Pendapat ini dianut oleh Ali as dan ahli zahir. Ath-Thahawi meriwayatkan hadits dari Muhammad bin Ishaq bahwa ia memandang dengan lafadz jatuh talak satu, seperti telah kami katakana. Juga diriwayatkan bahwa Ibn Abbas dan Thawus berpendapat seperti pendapat yang dianut madzhab Imamiyah.”

Menurut Asy-Syafi’i,”Jika seorang laki-laki menceraikan istrinya dengan talak dua atau talak tiga dalam keadaan suci dan tidak dicampuri, baik dilakukan sekaligus (satu kalimat dengan menyebutkan bilangan), maupun secara terpisah (satu kalimat diulang – ulang), hal itu mubah, tidak dilarang, dan talak tersebut sah.” Dikalangan sahabat, yang berpendapat demikian adalah Abdurrahman bin Auf. Mereka meriwayatkan hadits ini dari al-Hasan bin Ali as. Di kalangan tabi’in yang berpendapat seperti ini adalah Ibn Sirin. Sedangkan di kalangan fukaha yang mengikuti pendapat ini adalah Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur.

Kalangan sahabat seperti Ali, Umar, Ibn Umar dan Ibnu Abbas berpendapat, “Apabila seorang laki-laki menceraikan istrinya dalam keadaan suci dengan talak dua atau talak tiga, baik sekaligus maupun secara terpisah, ia telah melakukan perbuatan haram, maksiat, dan dosa. Di kalangan fukaha yang berpendapat seperti ini adalah Abu Hanifah beserta para sahabatnya dan Malik. Tetapi mereka mengatakan bahwa talak itu sah.”

Abu al-Qasim al-Khurqi dalam Mukhtashar-nya menulis,”Apabila seorang laki-laki berkata kepada istri yang telah dicampurinya, “Engkau ditalak. Engkau ditalak”, maka jatuh talak dua. Tetapi jika dengan kalimat kedua itu ia bermaksud memahamkan kepada istrinya bahwa telah jatuh talak dengan kalimat pertama, maka jatuh talak satu. Apabila perempuan itu belum dicampuri, maka dengan kalimat pertama itu ia menjadi ba’in. kalimat sesudahnya tidak memiliki konsekuensi apapun karena yang berlaku adalah ucapan pertama.”

Sedang Ibn Qudamah dalam Syarh ala Mukhtashar al-Khurqi mengatakan,”Apabila seorang laki – laki mengatakan kepada istrinya yang telah dicampuri,”Engkau ditalak”(dua kali) dan ia berniat bahwa dengan ucapan kedua itu jatuh talak dua, maka bagi perempuan itu jatuh talak dua. Tetapi jika dengan ucapan kedua itu ia berniat untuk menanamkan bahwa dengan ucapan pertama itu telah jatuh talak atau hanya untuk menegaskan, maka jatuh talak satu. Apabila ia tidak berniat demikian, maka jatuh talak dua. Pendapat ini dianut oleh Abu Hanifah dan Malik. Hal itu sahih menurut dua qawl asy-Syfi’i. tetapi dalam qawl terakhir ia mengatakan bahwa dengan cara itu jatuh talak satu.”

Al-Khurqi dalam Mukhtashar-nya menulis,”Kepada istri yang telah dicampuri, jatuh talak tiga apabila suami mengatakan kepadanya kalimat-kalimat seperti,”Engkau ditalak, kemudian ditalak dan ditalak.” Atau ,”Engkau ditalak, kemudian ditalak, lalu ditalak.”

Sedang Ibnu Qudamah dalam Syarh-nya menulis,”Menjatuhkan talak tiga dalam satu lafadz menuntut jatuhnya talak tersebut sekaligus, seperti kalau suami mengatakan (kepada istrinya), “Engkau kucerai dengan talak tiga.”

Di sisi lain Abdurrahman al-Jaziri berkata,”Laki-laki merdeka memiliki tiga talak. Apabila laki – laki itu menceraikan istrinya dengan talak tiga sekaligus dengan mengucapkan, “Engkau kuceraikan dengan talak tiga,” maka pendapat madzhab yang empat (ahlussunnah), bilangan yang diucapkannya itu berlaku. Itulah pendapat mayoritas ulama. Tetapi pendapat itu ditentang oleh sebagian mujtahid, seperti Thawus, Ikrimah, Ishaq, dan yang terkemuka di antara mereka adalah Ibn Abbas.”

Demikian beberapa pendapat tentang talak tiga sekaligus. Dari keterangan di atas nampak sebagian ada yang menganggap telah jatuh talak tiga dan ada pula yang menganggap hanya berlaku satu talak.

Dalil batalnya talak tiga sekaligus

Ayat al-Qur’an yang kerapkali dijadikan rujukan talak adalah QS. Al-Baqarah (2) ayat 229 yang berbunyi,” Talak (yang dapat dirujuki) itu dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.”

Ayat di atas sesungguhnya menunjukkan bahwa jatuhnya talak itu satu per satu, tidak sekaligus. Oleh karena itu, Allah mengungkapkannya dengan lafadz al-marrah untuk menunjukkan tata cara perbuatan itu dilakukan satu per satu. Selain itu, kata ad-daf’ah, al-karrah, dan annazlah adalah seperti al-marrah baik dalam pola (wazan), makna, maupun ungkapan.

Berdasarkan penjelasan di atas, kalau suami mengatakan kepada istrinya,”Engkau kuceraikan dengan talak tiga sekaligus,” ia tidak menceraikan istrinya satu talak demi satu talak. Ia juga tidak menceraikannya dengan dua talak. Melainkan ia menceraikannya dengan talak satu. Ada pun kata tiga yang diucapkannya tidak berarti pengulangan kalimat itu tiga kali.

Al-Jashshash berkata,”Talak itu dua kali. Sudah tentu, hal itu menuntut pemisahan. Sebab, kalau seseorang menceraikan istrinya dengan dua talak sekaligus, tidak cukup dengan mengatakan,”Engkau kuceraikan dua kali.” Seperti itu pula seseorang yang membayarkan uang dua dirham kepada orang lain, tidak cukup dengan mengatakan,”Aku bayarkan kepadamu dua kali.” Melainkan ia harus menjelaskan pembayaran itu.”

Dalil lainnya berasal dari Shafwan al-Jammal yang meriwayatkan hadits dari Abu Abdilla as: Seorang bertanya pada Imam Abu Abdillah as,”Aku telah menceraikan istriku dengan talak tiga sekaligus. Bagaimana pendapat Anda?” Imam Abu Abdilah as menjawab,”Bukan apa – apa (talak itu tidak sah).”

An-Nasai meriwayatkan hadits dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah saw diberitahu tentang seorang laki – laki yang menceraikan istrinya dengan talak tiga sekaligus. Maka beliau berdiri sambil marah, kemudian bersabda,”Apakah dia akan mempermainkan Kitab Allah, padahal aku masih ada ditengah kalian?” Kemudian seorang laki – laki berdiri dan berkata,”Wahai Rasulullah, bolehkah aku membunuhnya?”

Dalil lainnya berasal dari Ibn Ishaq yang meriwayatkan hadits dari Ikrimah dari Ibn Abbas bahwa Rukanah menceraikan istrinya dengan talak tiga sekaligus. Karenanya –setelah itu- ia sangat bersedih. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya, “Bagaimana kamu menceraikan istrimu?” Ia menjawab,”Aku menceraikannya dengan talak tiga sekaligus.” Maka Rosulullah saw bersabda,”Dengan cara itu hanya jatuh talak satu. Karenanya, rujuklah dengannya.”

Dalil berlakunya talak tiga sekaligus

Sementara itu, dalil yang kerapkali dijadikan pegangan bahwa talak tiga sekaligus berlaku talak tiga adalah riwayat Ibn Thawus dari bapaknya: Abu ash-Shahba berkata kepada Ibn Abbas,”Tahukah Anda bahwa talak tiga pada satu majelis itu dihitung sebagai talak satu pada zaman Rasulullah saw dan Abu Bakar, tetapi hal itu dihitung sebagai talak tiga pada (kekhalifahan) Umar?” Ibn Abbas menjawab,”Benar”.

Muslim meriwayatkan hadits dari Ibn Abbas: Talak pada zaman Rasulullah saw, Abu Bakar dan dua tahun pertama kekhalifahan Umar adalah talak tiga pada satu majelis dianggap satu talak. Kemudian Umar bin al-Khaththab berkata,”Orang-orang telah tergesa-gesa dalam satu hal yang di dalamnya terdapat tenggang waktu bagi mereka. Alangkah baiknya kalau kami menetapkan hal itu.” Kemudian ia menetapkan talak tiga sekaligus itu bagi mereka.”

Demikian beberapa dalil yang kerapkali dijadikan urujukan untuk berlaku talak tiga pada ucapan tiga talak sekaligus dan sebenarnya masih banya lagi pendapat yang berkembang.

Tujuan pembahasan ini, agar kita berhati-hati dalam mengucapkan kata-kata talak kepada istri kita. Sebab, hukum Islam tidak boleh dipermainkan. Ucapan yang mempermainkan justru akan menjadi boomerang bagi keabsahan pernikahan di hadapan hukum dan pertanggungjawabannya di mata Allah swt. Semoga kita bisa menjadi manusia – manusia yang taat pada hukum-hukum Allah.

sumber : Anggun Majalah Pengantin Muslim Edisi 04 / II / April 2009

~ by glesyer on July 21, 2010.

3 Responses to “PERDEBATAN TALAK TIGA SEKALIGUS”

  1. dalam menulis suatu artikel…bisa ngga di tulis juga referensiny…agar ilmu itu jelas kebenarannya…wassalam

  2. Tentulah ada pertimbangan yg sangat arif dari kaum ulama tentang talaq. Tapi menurutku itu menjadi suatu kesempatan bagi pria untuk semena mena kepada wanita. Mestinya jika istri sampai malakukan hal yang tidak benar yang memungkinkan terjadi talaq, pihak pria/ sang suami tidak boleh cuci tangan begitu saja, dgn memberikan talaq. Mestinya harus tetap mencintai/mempertahankan istrinya sampai akhir hayat. Tapi suami punya hak bertindak keras demi kebaikan istri dan rumah tangga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: